Rabu, 29 April 2015

Perjalanan Relawan

Bilakah lelah
Ambil jantungku saja
Agar kau bertenaga
Jelajahi nelangsa

Bilakah sesak
Ambil paruku saja
Agar kau merdeka
Hirup nuansa

Bilakah sepi
Ambil hatiku saja
Tak kujual kenyataan
Kuhadirkan harapan

Meski degupnya bergegas
Meski nafasnya terkuras
Namun ruang hati ini luas
Untuk hidup
Keyakinan dan perjuangan ini pantas

Puisi ini saya persembahkan kepada semua relawan. Relawan pendidikan, relawan kesehatan, relawan ekonomi, relawan HAM, relawan hukum, relawan lingkungan, dan segala jenis bentuk kerelawanan. Berkat keikhlasan relawan bumi ini tetap layak untuk ditinggali, sementara harapan yang dihadirkan perlahan mengisi sela-sela, memberi udara segar untuk bernafas.

Sabtu, 21 Maret 2015

Sembilan Puluh Hari


Wisuda sudah berlalu empat bulan yang lalu, dan saya masih menganggur. Sedih? Tidak sepenuhnya, karena sejujurnya saya lebih suka membuka usaha sendiri daripada harus bekerja kepada orang lain. Hanya saja ini sama artinya dengan saya mesti menahan cemas setiap kali menatap wajah kedua orangtua. mereka berharap saya bisa bekerja seperti orang kantoran pada umumnya. Apalagi kalau saya mau mendaftar ke pekerjaan yang sangat saya hindari: PNS.

Sampai akhir tahun kemarin ada dua pekerjaan yang menawari tanpa ribet, sayang ijazah masih belum juga mendapat bubuhan tanda tangan dari Tuan Rektor terhormat. Pertengahan januari, ijazah baru syah menjadi milik saya, dan saya bukan lagi hamba universitas.

Memasuki tahun ini, banyak yang ingin dilakukan, hebatnya keinginan kali ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berakhir menjadi wacana. Selepas menjadi sarjana banyak ide liar yang berlarian mengharap dengan wajah penuh memelas untuk ditangkap. Satu per satu ide pun berusaha diwujudkan. Beberapa ide sudah terwujud bahkan sebelum tahun berganti.

Bila kelak ada reporter yang repot-repot mewancarai teman-teman kampus untuk bertanya perihal saya di kampus. Saya jamin teman-teman akan bercerita kalau saya bukanlah tipikal mahasiswa yang betah dikampus sekaigus segan untuk memuji institusi yang bersedia memberikan saya gelar tersebut. Namun, saya pun dapat menjamin tak akan ada reporter yang mau repot-repot begitu, apa pula nilai beritanya?

...

Setelah secara formal nama saya mendapat tambahan sarjana, ada perbedaan dari cara memandang dunia. Bukan, bukan secara akademis, namun lebih luas lagi. Saya jadi sedikit lebih mengerti mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang lebih baik ditinggalkan.

Namun kiranya hal ini tidak berlaku bagi satu bagian di hidup saya : jatuh cinta. Selepas SMA tak ada lagi perihal cinta yang sanggup masuk melewati pintu hati. Beberapa hanya sanggup mengetuk, beberapa saya lah yang berusaha mengetuk pintu sekuat tenaga, berharap mendapat ijin untuk tinggal, bila tak boleh lama, barang sebentar saja, merasai jiwa berdua, menjiwai dua rasa.

Dari tahun ke tahun, kebodohan saya perihal jatuh cinta pun bertambah, kini sudah sampai taraf sepi dan keramaian tak dapat lagi dibedakan. Bilakah ada seorang di luar sana yang dengan kebaikan hatinya bersedia menulis buku "How to Fall in Love for Dummies" ?

Setelah luka yang saya cipta di masa silam, apakah semesta sedang merajut karma melalui tapak-tapak kaki yang beranjak tuk mengetuk pintu hati? Setelah penyesalan yang masih saja menghantui, patutkah semesta menuntut dendam untuk dibayar tuntas?

Mana yang cinta, mana yang rasa suka semata, mana pula obsesi kepada insan yang didamba?

Kepada gadis itu saya mengenal perumpaan paling hiperbolis yang pernah saya tahu : jatuh cinta pada pandang pertama. Memenuhi teori untuk membuktikan itu hanya suka semata, rasa ini pun saya endapkan selama sembilan puluh hari lamanya, teori itu pun termentahkan, bertepatan dengan ia yang tak lagi mengacuhkan.

Setelah melewati berbulan-bulan masa, saya pun memberanikan kembali menyapa yang disambut hangat. Sesaat. Kembali bertepatan dengan sembilan puluh hari lainnya.

Tahun pun beranjak menjadi baru, sialnya rasa ini tak kunjung berlalu. Sekali lagi sapa itu bersambut hangat, dan entah kenapa berakhir sama dengan yang lalu, juga tepat pula sembilan puluh hari yang lain.

Sering saya bertanya, rasa yang terus berkobar, tak kunjung pudar, perlukah untuk diperjuangkan barang untuk mendapat jawabnya ataukah ditinggal saja dengan menahan beban rasa yang dapat pecah kapan saja.

Jumat, 19 Desember 2014

Mengawetkan Rindu Dalam Hujan

Rindu berbilang tak terkira dan kau masih tak ada di sana, di tempat pertama kali kita menyilangkan jari kelingking. Sebuah perjalanan mengejutkan kita, bahwa aku tak sebaik prasangka. Kau tak pernah menyangka dan aku tak tahu kenapa.

Aku tak mau menjadi kaum pujangga yang merintih lemah, tak berdaya, berangan-angan memiliki kekuatan super dan jenius dapat membolak-balikkan waktu dan ruang semudah membalikkan telur mata sapi. Semoga kau tak terkejut untuk kedua kalinya, karena aku telah mendaftar ke dalam barisan satria, setelah kau beranjak dalam langkah entah ke berapa.

Sebagian dari diriku meyakinkan untuk tidak lagi memperdulikan, karena kau juga tak butuh lagi perhatian, setidaknya dariku. Sebagian lainnya ingin memastikan hidupmu baik-baik saja setelah perjalanan mengejutkan itu. Jangan sekali-kali kau bertanya motif aku melakukan ini semua, karena aku tak tahu apakah aku melakukannya karena masih menyimpan rasa atau sebuah perjalanan lainnya untuk menebus dosa.

Namun aku terlanjur menjadi satria, setiap satria harus memenuhi sumpahnya, dan sumpahku adalah untuk tidak menyerah pada cinta. Sumpahku akan terpenuhi bila kelak hidupmu bahagia bersamanya dan beriringan rasa sesal dan dosa-dosa kuharap sirna.

Dari pria-pria juara, telah kau miliki yang terbaik. Aku hanyalah kenangan, entah hilang kau buang atau utuh kau simpan. Sebaik-baik pilihanmu tak sedikitpun aku diuntungkan pada akhirnya. Tak apa, kau masih ingatkan, aku satria? Selama kau bahagia, aku akan menepuk dada.

Aku adalah satria yang mengganti wujud menjadi kenangan-lebih tepatnya kau ganti paksa. Tak apa. Akulah kenangan. Akhir darinya adalah muara, bertatap muka dengan samudra di luar sana. Akulah kenangan. Diantara cuaca berganti, aku kan kembali berganti rupa, melayang, terbang, menjadi uap. Saling sapa dengan kenangan lainnya di awan sana.

Bila rindu telah terhitung tak terkira, kau tatap awan hitam di atas, tanda bahwa segala rasa itu nyata. Aku akan segera tiba.

Saat rindu tak dapat lagi dirayu, aku kan menjumpaimu sebagai hujan. Aku akan pulang, ke tempatmu menghirup sari udara. Aku akan datang, ke peraduanmu jatuh cinta. Aku; satria; kenangan; uap; hujan, kan tetap menyapa, tak peduli kau berteduh menghindarinya di bawah payung atau tempat-tempat teduh. Aku; satria; kenangan; uap; hujan, kan tetap memanggil namamu, melalui tiap bunyi tetes hujan atau dingin yang semerbak. Hingga sumpahku terpenuhi sebagai satria.

Minggu, 30 November 2014

Gaduh Bak Vuvuzela



Seorang gadis baru saja menjejakkan kakinya di dunia perkuliahan. Tak cantik, tak juga berbadan baik, tak ideal seperti khayalan perempuan dan lelaki. Datang di sebuah jurusan yang berisi sedikit makhluk berkelamin laki-laki, tak ayal membuatnya mudah memandang lebih lelaki yang berparas baik sebagai sosok istimewa, oase di padang pasir. Jurusan yang berpenduduk lelaki sebagai minoritas memang otomatis membuat lelaki berparas baik bak sesuatu yang mewah dan langka, menjadi pujaan bagi yang mendamba serta menjadi anugerah bagi yang punya. Entah bagaimana nasibnya lelaki itu bila tak berada disana.

Gadis yang merayakan sweet seventeen-nya tahun lalu ini tertarik kepada lelaki berparas baik. Tak hanya satu, ada beberapa lelaki yang berhasil mencuri perhatiannya, menjadi semangatnya berebut parkiran motor yang kian langka setiap pagi. Kepada seorang lelaki berparas baik ia memberanikan diri menunjukkan ketertarikannya dengan membawakan bekal makan siang yang ia racik sendiri dan ia hantarkan sendiri pula. Gadis yang kedewasaannya belum matang ini melakukan suatu kecerobohan dalam menunjukkan ketertarikannya pada lelaki-lelaki itu. Ia menulis nama-nama lelaki berparas baik yang mencuri perhatiannya di sebuah media sosial, tempat dimana orang tak perlu kulo nuwun menginjakkan kaki pada privasi orang lain. Setelah sebelumnya ia tidak diterima dengan baik kala tulus membawakan bekal, sikap cerobohnya kali ini seolah menjadi legalisasi makhluk-makhluk muda kampus untuk membicarakannya. Rasa suka yang ia berani nyatakan dan ketulusan yang ia tunjukkan menjadi bahan perbincangan disela padatnya jadwal kuliah, sesekali sekumpulan makhluk semester yang lebih tua menertawakan. Kisahnya cepat menjadi lawakan, laku bak mi instan rebus dikala hujan.

...

Seorang mahasiswa humble yang doyan menghabiskan waktu bermain game bersama rekan-rekannya kini mulai meluangkan waktu untuk seorang mahasiswi berparas dan berprestasi baik. Apalah lagi alasannya kalau bukan karena cinta. Seorang meluangkan waktunya, berarti ia telah memberikan salah satu hal terpenting dalam hidupnya, karena waktu tak dapat diambil lagi. Terlebih bagi seorang gamer yang tak punya banyak waktu untuk urusan selain bermain. Entah apa yang ada di benak mahasiswi berparas baik itu, karena mahasiswa itu tak termasuk lelaki berparas baik di kampus yang berisi sedikit lelaki. Entah apa pula yang menjadi motif mahasiswa itu mencintai mahasiswi tersebut, setelah banyak dari temannya yang protes tanda tak setuju. 

Makhluk-makhluk di kampus mereka adalah salah satu contoh ironi pendidikan saat ini. Dijejali jadwal yang padat, tugas menggunung dan ujian yang berat menyebabkan mereka jarang memiliki kehidupan lain di luar rutinitas kuliah. Karenanya, bila ada hal-hal yang menarik perhatian dan layak diperbincangkan-mayoritas hal-hal buruk-akan segera menyebar luas, mampir ke mulut dan telinga yang bahkan telah tertutup sucinya kerudung. Kisah dua sejoli itu, sikap protes orang-orang terdekat mereka berdua, dan bagaimana mereka berdua menunjukkan cintanya kepada dunia adalah bumbu terbaik untuk menjadi perbincangan, mengisi sela-sela waktu kosong dan bagian otak yang tersisa. Terlebih setelah keduanya mendapat takdir buruk, jatuh dari berkendara di subuh buta. Perbincangan makhluk-makhluk kampus bak suara di peternakan lebah, gaduh bak vuvuzela di Piala Dunia Afrika. 

Andaikata, mahasiswi itu adalah makhluk perempuan yang juga humble, ekstrovert, dan sifat-sifat baik ideal lainnya, tentu perbincangan itu tak akan menjadi sebesar ini, bahkan mungkin lebih banyak yang mendukung. Dan semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Perbincangan demi perbincangan, nada-nada sumbang tak berhenti setelah celaka. Masih pula menjadi bahan tawa ketika mahasiswa itu berkeras kepala menemani kemana pun mahasiswi itu dirawat padahal dia sendiri sedang menanggung derita fisik yang lebih parah.

...

Terlepas dari kecerobohan gadis itu, lagi pula siapa diantara manusia yang tidak pernah melakukan kecerobohan, bahkan yang kedewasaannya matang sekalipun; terlepas dari cara menunjukkan cinta mahasiswa dan mahasiswi itu yang dinilai berlebihan bagi makhluk sekitarnya; terlepas dari apakah ketiga makhluk itu benar atau salah, mereka bertiga telah menunjukkan kebebasan yang menjadi barang langka di masa ini. Banyak orang terperangkap dengan citra yang sudah melekat padanya, terperangkap pada bagaimana orang menilainya, terperangkap pada aturan salah dan benar; banyak yang terperangkap, tak bebas dan akhirnya tak menjadi dirinya sendiri. Ketika musik dengan irama menghentak diperdengarkan, tak satupun dari mereka bergoyang, ketika musik mellow menyayat hati didendangkan, tak satupun menangis, mereka takut dibilang berlebihan, mereka khawatir dianggap gila, mereka tak berani menjadi berbeda, karena di lingkungan ketiga makhluk tersebut berbeda seolah hal yang hina. 

Gadis itu berani menunjukkan cintanya kepada yang mencuri perhatiannya ketika yang lain berpura-pura biasa saja dan hanya berani menjadi stalker kala jatuh cinta. Ia repot-repot membentuk perhatiannya menjadi aksi nyata ketika yang lain hanya sebatas kata-kata di media maya. Entah gadis itu tak mengerti resiko baginya yang biasa saja, asing dan entah memiliki kelebihan apa, untuk menyukai makhluk-makhluk istimewa atau memang ia telah siap dengan segala resikonya. Bila alasan kedua yang menjadikannya berani, maka tepuk tangan patut diberikan padanya. Jatuh cinta yang diungkapkan dengan baik dan tulus memang tak selalu berujung diterima dengan sama baiknya.

Kedua sejoli itu, mahasiswa dan mahasiswi, merayakan betapa indahnya kala jatuh cinta. Mereka berdua memeriahkan dengan berbagai tindakan yang kemudian dianggap tak wajar, termasuk ketika si mahasiswa merengek untuk turut serta kemanapun mahasiswi dibawa, padahal itu merupakan penebusan rasa bersalah terhadap tanggung jawab yang lalai ia jalankan. Entah para pembincang itu iri karena masih sendiri atau memang telah mendarah daging untuk bahagia membenci dan benci kepada yang berbahagia.

Terlepas dari benar atau salah ketiganya, meninggalkan kebiasaan mencampuri kehidupan manusia lainnya yang tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan diri sendiri adalah hal yang baik dilakukan. Mencari celah jadwal padat dengan membuat kehidupan lain di luar rutinitas merupakan satu bentuk cara meninggalkan kebiasaan lama.

Bila memang jiwa penonton telah menjadi identitas bagi makhluk-makhluk yang suka berbincang kabar tidak baik itu, setidaknya mereka menjadi penonton yang baik bak supporter Liverpool, meski telah lebih dari dua dekade tak juara mereka tetap setia, mengapresiasi pada kemenangan dan mengoreksi bila tertimpa kekalahan. Semua itu demi kebaikan bersama, pemain bola akan bahagia, supporter pun turut serta. Karena urip iki mung mampir ngombe, maka puaskanlah dahagamu dengan air yang menyegarkan jangan melulu meminum kopi pahit atau bahkan alkohol yang merusak badan dan jiwa.

Senin, 17 November 2014

Percakapan Di Ruang Keluarga



Dewa-dewi waktu, malam, pagi, siang dan sore, sedang menikmati masa rehat di ruang keluarga. Ruangan itu dipenuhi aroma teh poci dan melati. Mereka tak begitu suka menikmati masa rehat dengan ditemani kopi, lantaran kopi memiliki kafein yang lebih sedikit daripada teh.

Berbagai macam cerita pada masing-masing masa diperbincangkan, mulai dari kesepakatan memberi jatah hujan turun pada tiap masa, hingga perbincangan remeh mendekati tak berarti selayaknya obrolan manusia, seperti berdebat tentang jumlah pengagum sore-pemilik senja-yang kian banyak jumlahnya.

Siang yang memiliki pengagum paling sedikit, membeberkan fakta tentang pengagum sore. "Kalian tahu, mereka berburu senja hanya untuk menaikkan kasta!" ia memulai argumen dengan suara keras seperti biasa. "Kebahagian jiwa mereka bukanlah karena rasa yang tercipta kala raga menatap senja, kebahagiaan jiwa mereka hadir ketika manusia lainnya mengagumi rekaman senja mereka!"

"Sebenarnya mereka bahagia karena menikmati karya, bukan karena senja, begitu menurutmu?" tanya dewi malam yang kala itu menggulung rambut panjangnya ke atas, menyisakan pemandangan leher jenjang dan beberapa helai rambut yang terjuntai.

"Tidak semua tentunya, … kan?" sahut pagi.

Siang berdiri ke arah meja, tempat teh poci mendinginkan diri, sambil melanjutkan argumennya. "Tentu saja tidak, tapi banyak dari mereka yang berkarya tentang senja hanya untuk mendapat pujian dari manusia lainnya. Puisi misalnya, mereka merangkai kata tanpa menyertakan jiwa senja di dalamnya, yang disertakan mereka hanyalah jiwa manusia yang merasa indah serta layak dikagumi. Aku ragu pada pribadinya yang menyebut diri sendiri tukang sajak."

Dewi sore yang menjadi rujukan pembicaraan akhirnya angkat suara. "Ya, aku tahu itu. Aku mengetahui itu sudah sejak lama, dan telah lama pula aku gelisah karenanya." Ia berhenti sejenak, mengambil cangkir teh poci yang ditawarkan siang. "Peradaban manusia saat ini menjauhkan mereka dari spiritualitas. Mereka telah mulai berlari dari pemahaman kepada jiwa, kepada alam, dan kepada pencipta. Hidup mereka sekarang hanya tersisa-semoga aku salah-tentang baik dan buruk serta benar dan salah. Tuhan dari diri mereka kini adalah pengakuan manusia. Ini bak bila mendapat pengakuan baik atau benar semakin banyak, semakin alim pula manusia itu."

"Terpujilah manusia-manusia yang dengan sederhana menikmati hidup, dan tak sekalipun ia berkacak pinggang mengatakan ia menikmati hidup."

Doa dewi malam diamini ketiga saudaranya.

Rabu, 13 Agustus 2014

Tidak Ada Lagi Seandainya



Persis seperti beberapa waktu sebelum meninggalkan Bogor. Saya banyak mengorbankan waktu tidur saya untuk merenung. Keadaan saat ini memang tak seburuk kala itu, tetapi keputusan yang saya ambil sekarang akan membuktikan kepada diri saya sendiri apakah saya masih kekanakan atau sudah lebih dewasa mengambil sikap.

Rencana detail memang baru saya tuliskan setelah dosen penguji memutuskan saya lulus dan berhak menyandang gelar sarjana, namun kemana saya pergi setelah ini sudah mantap dihati. Keputusan ini tidak mudah diambil, namun tidak pula berat ... entah kenapa, keputusan kali ini tidak membuat saya setakut ketika memutuskan meninggalkan Bogor, namun mulai muncul antusias yang serupa.

Tidak butuh waktu lama untuk menentukan pilihan kemana langkah selanjutnya dipijakkan. Semuanya seolah reflek dari pengalaman perjalanan selama ini. Saya hanya perlu menggunakan jemari tangan untuk menghitung prioritas mana yang perlu didahulukan. Setelah menghela nafas, sayapun rela mimpi saya ditunda untuk sementara waktu. Mimpi saya berjumpa dengan realitas, dari perjumpaan itu lahirlah kompromi yang bernama realitas.

...

Pindah ke Surabaya adalah salah satu kisah saya perihal memanjakan ego terlampau sangat....

Jejeran tas besar berderet di depan warung nasi pecel stasiun Babat, menunggu Bapak menjemput subuh kala itu. Wajahnya jelas menyirat kecewa, kerutannya bertanya, "mengapa anaknya menyerah secepat itu?".

Beberapa bulan di rumah tanpa kegiatan yang berarti membuat Ibu khawatir. Pada dasarnya Ibu memang suka khawatir terhadap berbagai hal yang sebenarnya baik-baik saja. Tak ingin kekhawatiran itu berlarut-larut, saya mengunjungi teman-teman di kota-kota besar. Bercengkerama dengan kehidupan kampus demi menjaga semangat tak padam, memelihara rasa ingin kembali ke dunia civitas akademika.

Ibu bertanya apakah saya yakin memilih farmasi ketika pengumuman menampilkan nama saya disana. Saya pun menjawab tanpa ragu, bercampur sedikit sesal, bangga serta haru. Perjalanan sunyi akhirnya usai.

Bila bertanya kepada teman-teman saya di fakultas ini, mungkin akan dapat jawaban yang hampir sama, ada rasa sesal saya pindah ke tempat ini. Jujur, saya tidak menyukai lingkungannya. Dan saya akui, memang saya gagal beradaptasi dengan baik. Bisa sampai di titik ini adalah satu perjuangan yang pahit-setidaknya dari sudut pandang saya-yang panjang. Ini adalah sisi kekanakan saya.

Meskipun pahit, tidak semua perjalanan kelam. Saya berterimakasih karena pindah ke Surabaya, membuat keadaan rumah jauh lebih baik. Entah apa jadinya bila saya menetap lama di Bogor.

...

Perjalanan selanjutnya adalah tentang belajar tidak ada seandainya. Berandai-andai adalah pekerjaan yang membuang waktu, karena setiap kata andai berada di luar kuasa manusia.

Kedewasaan tidak akan memberi ruang pada seandainya. Hanya akan ada pilihan dan resiko yang tidak dapat dipilih salah satu, karena mereka selalu datang berurutan.

Dengan tangan terbuka, saya akan menyambut resiko serupa saya antusias memilih perjalanan selanjutnya. Tidak akan ada lagi penyesalan yang menyesatkan.

Bye....


Rabu, 06 Agustus 2014

Lekang Oleh Waktu



Surabaya, 18 Juli 2009

“Wan, kapan kamu nikah?”

“Nanti to, Pak. Awan masih belum siap kalau sekarang.”

“Nanti, nanti, nanti! Nanti kok terus, keburu Bapak ini ndak bisa lihat nikahanmu, Le ….”

“Hush, Bapak kok ngomong gitu …. Iya, iya, Awan janji nikah, secepatnya.”

Sudah setahun ini Bapak selalu menanyakan jodohku. Dan akhir-akhir ini Bapak ngebet minta aku buru-buru nikah. Aku masih belum siap kalau sekarang, walaupun hidupku sudah mapan tapi aku masih menunggu kekasihku yang sedang mengejar gelar S2-nya di Prancis.

Tahun ini adalah tahun ke 5 hubungan kami. Waktu yang cukup panjang untuk mengerti satu sama lain. Aku masih menunggunya, dan ia disana masih mempercayaiku menjadi cintanya. Dulu waktu mau pergi ke Prancis, aku berjanji akan melamarnya saat ia pulang membawa gelar nanti.

“Kamu masih nunggu dia, si siapa itu … Tanti?” Aku mengangguk. “Eleng nak, eling kamu itu siapa, la si Tanti itu sudah anak orang kaya, kuliah S2 di Prancis lagi, kamu itu ndak satu derajat sama dia.” Aku sudah sering dengar omongan Bapak yang seperti ini, aku sudah kebal, coba kalau dulu, aku pasti sudah marah.

“Kita berdua kan saling cinta, Pak ….”

“Halah, sok pujangga kamu. Kalau kamu mau nyari perempuan lagi, nanti juga bakal cinta.”

Perdebatan seperti ini memang selalu dimenangkan Bapak. Mati-matian membela Tanti juga nggak akan merubah penilaian bapak kepadanya selama ini.

Sejak pertama kali mengenalkan Tanti kepada keluarga, Bapak sudah menunjukkan gelagat kalau ia nggak suka dengan kekasihku. Awalnya Bapak bilang nggak suka karena pakaian Tanti yang menurut Bapak nggak sopan, alasan lainnya pun bersambut, karena nggak sederajatlah, kita berdua nggak cocoklah, yang paling bapak nggak suka adalah perilakuku berubah sejak mengenal Tanti. Sebenarnya Bapak terlalu berlebihan menilai Tanti, berlebihan mencari keburukannya. Tanti tak pernah mempermasalahkan status keluargaku, kita berdua selama ini juga merasa cocok-cocok saja. Kenapa perilakuku berubah pun bukanlah karena Tanti, tapi karena aku memang ingin bergaul lebih luas lagi, sebagai anak muda aku ingin menjalani kehidupan seperti lainnya.

Sebenarnya Bapak bukanlah sosok yang memandang orang dari segi materi, ia orangnya realistis, baginya hubunganku dengan Tanti adalah hubungan yang nggak realistis, karena itu Bapak nggak suka, Bapak khawatir anaknya nanti malah sakit hati.

Bapak memang hanya seorang penjahit di kampung, penghasilannya berlimpah hanya saat-saat mendekati hari lebaran atau saat hari kemerdekaan. Sementara ibu buka warung kecil-kecilan di depan rumah, jual makanan juga segala keperluan rumah tangga sehari-hari. Dari hasil kerja keras mereka akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Walaupun hanya D3, tapi aku sangat bersyukur bisa kuliah ditengah ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Ibu bilang aku boleh kuliah lagi kalau mau, masih ada tabungan di Bank. Aku berterimakasih atas kebaikan orangtuaku, tapi aku menolaknya dengan halus, lebih baik uang itu untuk biaya adikku kuliah nanti. Aku lebih memilih bekerja untuk menambah ekonomi keluarga serta menabung untuk pernikahanku nanti.



Malang, 1 Januari 2008. 00.37 WIB

“Sebentar lagi kita nggak bisa kayak gini lagi, ya ….” tangan Tanti menggenggam erat kedua tanganku, jemarinya menyapu punggung tanganku.

Aku menyunggingkan senyum padanya, kutarik perlahan tangannya kearahku, sekarang ia dalam pelukan. Ia tengadahkan wajahnya, butir-butir airmata yang meleleh lebih dari cukup untuk menunjukkan besar rasa sayangnya padaku.

“Keciiil …,” begitu panggilan kesayanganku untuknya. “Cinta nggak harus selalu bersama. Walaupun dipisahkan jarak, kita masih bisa berbagi kasih sayang, kan? Cinta itu lebih besar daripada jarak yang memisahkan kita nanti.”

Tanti memandang wajahku dengan serius, seolah ia ingin mencari sebuah jawaban dari keraguannya. Ia mengangguk. Aku kecup keningnya.

“Aku takut ….” Ia kembali memandang wajahku, “Aku takut aku egois dan nggak sanggup jaga hubungan kita.”

“Kecil …, aku sebenarnya juga khawatir nggak sanggup nunggu kamu. Tapi aku yakin cinta kita lebih kuat daripada ketakutan kita. Pemilik cintanya juga pasti kuat.”

Tanti tersenyum, manis sekali. “Makasih ya, sayang, kamu udah percaya banget sama aku.” Ia kecup pipiku. “Semoga sejauh apapun kita terpisah, cinta akan selalu menemukan jalan pulang ke rumah untuk kembali bertemu.” Aku tersenyum dan mengangguk penuh setuju.

Sebuah pelukan hangat untuk malam yang dingin dari dua sejoli yang takut akan akhir kisah cintanya kelak.

Malam ini, aku, Tanti dan enam orang teman lainnya merayakan tahun baru di Villa salah seorang teman. Teman-teman berkumpul dibelakang sedang asyik memasak, sementara aku dan Tanti memilih untuk menyendiri sebentar, menikmati malam romantis di balkon lantai atas. Kebersamaan yang mungkin tak akan kita dapatkan lagi sampai beberapa tahun yang akan datang.

Ia memintaku menggambar sketsa wajahnya. Wajahnya yang cantik pun menjadi buruk rupa disketsaku, aku memang nggak jago gambar, dan itu adalah hasil terbaik yang bisa kuusahakan. Tanti yang memang jago gambar membuat sketsanya tampak mirip aslinya, rasanya lebih ganteng gambarnya daripada aslinya.

Saat melihat hasil kerjaanku, Tanti tertawa terpingkal-pingkal sambil mencubiti lenganku. Ia protes kenapa aku menggambar nenek sihir padahal menurut Tanti, dirinya adalah putri salju. Di bawah gambar yang kubuat, aku tulis, “Belajar yang rajin, dan akan pulang dengan gelar S2 untuk dilamar.” Ia tertawa membacanya. Tanti merebut gambar yang aku pegang, ia lalu menuliskan beberapa kata. Diberikannya kembali padaku, “Menunggu, dan kerja keras mencari uang untuk melamar putri salju.” Kita berdua tertawa sembari memandangi gambar yang dipegang masing-masing.

“Woooi! Pacaran mulu, waktunya makan sekarang. Nih, udah pada matang.” Anton meneriaki kami.

“Iyaa! Kita turun ….” Aku balas teriak lebih kencang.

Malam ini, dibawah langit kota Malang, kita berdua meyakini akhir indah dari sebuah kisah cinta.


Surabaya, 8 Agustus 2008
Aku tergesa-gesa mengejar waktu. Tanti akan pergi ke Prancis hari ini, aku harus mengantarnya, walaupun itu berarti harus bertemu dengan keluarganya.

Sama dengan Bapak, keluarga Tanti juga nggak menyukaiku. Bedanya, keluarga Tanti memandangku seolah seperti parasit yang mengejar Tanti karena harta. Setelah tahu siapa keluargaku mereka lebih memandang remeh. Sudah sejak lama aku mencoba meyakinkan keluarga Tanti bahwa aku nggak punya niatan apapun, ini murni cinta. Tapi seperti bagaimana Tanti ingin membuktikan kepada Bapak, usahaku pun sia-sia.

Saat melihatku, ia berteriak memanggil namaku. Tanti lari ke arahku dan memelukku erat. Air matanya meleleh. Aku ingin memeluknya erat dan nggak akan kubiarkan ia pergi, sepertinya Tanti juga menginginkan hal yang sama, ia memelukku lebih erat.

Sambil terisak ia berbisik padaku, “Jarak sejauh apapun, nggak bakal ngebuat kita jauh … karena jarak bukanlah ukuran untuk mendapatkan yang terbaik.” Ia mengendurkan pelukannya, didekapnya kedua tanganku, ia memandangku penuh kesungguhan, “Yang buat jarak itu jauh sebenarnya kita sendiri, yang buat hubungan jarak jauh itu berat sebenarnya karena hati kita terlalu kecil untuk menopangnya.”

Aku segera menambahkan, “Hati kita nggak diragukan lagi besarnya.”

Ia peluk lagi, lebih erat dari sebelumnya. Tanti berbisik ditelingaku, “Aku cinta kamu ….”

“Aku juga cinta kamu.”

Kita berdua tak mempedulikan keluarganya yang sedari tadi melihat. Apalah mau dikata, bila cinta, dunia memang terasa hanya milik berdua.

Akhirnya Tanti pergi mengejar cita-citanya. Aku hanya bisa melihat pesawat yang ia tumpangi semakin menjauh. Fase cerita cinta baru pun dimulai. LDR, hubungan jarak jauh, apapun namanya aku yakin kita berdua pasti sanggup melewatinya.



Paris, 2 Juni 2009.

Huaaah, aku ngelewatin kesempatan jadi yang pertama buat ngucapin ke kamu, maaf banget ya, Sayang. Ini juga aku baru bangun. Tadi aku telepon juga nggak kamu angkat, udah tidur ya? Dasar tukang tidur, hehe …. Sebagai gantinya, aku tulis ini buat kamu. Malam ini aku ingat masalah-masalah kita, dan aku jadi pengen nyoba nulis sesuatu.

Api dan air, contoh paling sederhana untuk menganalogikan dua hal yang berbeda dan berlawanan. Air itu sumber kehidupan, sementara api itu sumber kehancuran, setan juga terbuat dari api.  Untuk memadamkan api, digunakan air. Api sering kali meniadakan air, merubahnya menjadi uap. Mereka nggak akan pernah bisa jadi satu. Lalu bagaimana bila mereka ternyata saling mencintai? Aku kemarin berpikir begitu. Lalu aku coba nulis cerita untuk kamu.


Seandainya api dan air itu makhluk yang hidup, apa yang akan terjadi?. Anggap saja api itu berjenis kelamin laki-laki, air itu perempuan.

Air dan api tidak mungkin bisa bersatu, tapi ada dari kedua kaum itu yang saling jatuh cinta. Firo berasal dari negeri api, dan Aqua berasal dari negeri air. Cinta mereka, cinta yang suci. Sialnya, cinta itu tidak direstui orang tua dan teman masing-masing. Orangtua dan teman Firo tidak suka dengan Aqua, karena selama ini air sudah membuat kaum api lainnya mati. Orang tua dan teman air tidak suka karena dimata negara air, api derajatnya lebih rendah, api adalah sumber kehancuran, sementara air memiliki derajat yang lebih tinggi dari api, sebagai sumber kehidupan.

Semakin mereka menjalani hubungan itu semakin banyak yang menentangnya. Firo tetap yakin bahwa Aqua adalah belahan jiwa yang ia cari selama ini, begitu juga Aqua, ia meyakini hal yang sama. Mereka berdua tetap yakin, segala sesuatu yang terjadi selalu ada dalam kuasa dan sepengetahuan Tuhan, bahkan sebelum ini terjadi Tuhan pasti sudah tahu. Dan karena tercipta cinta diantara mereka berdua, berarti Tuhan telah mengijinkan mereka saling mencintai. Terpikir diantara keduanya, lalu mengapa mereka tidak meminta ijin saja kepada Tuhan untuk dipersatukan?

Suatu hari, Aqua dan Firo sedang berjalan-jalan. Dari awal mereka jatuh cinta sampai saat ini, mereka belum pernah bersentuhan. Saat itu Firo ingin sekali memegang tangan indah Aqua, rasa ingin itu sudah tidak bisa lagi ditahan. Ia lalu memegang tangan Aqua tanpa meminta ijin, seketika Aqua menjerit karena kesakitan, beberapa jemari Aqua menguap. Melihat Aqua menangis, Firo panik, ia berusaha menenangkan Aqua. Lalu, ia meminta Aqua untuk memegang tangannya juga, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Saat dipegang, Firo menjerit sangat keras, beberapa jemarinya pun hilang. Akhirnya mereka berdua sadar kalau keduanya memang mungkin untuk hidup bersama tapi tidak akan pernah bisa bersatu, karena bila saling menyentuh mereka saling meyakiti.

Firo dan Aqua tetap saling mencintai tanpa peduli dengan kenyataan yang menyedihkan. Mereka memutuskan untuk menikah walaupun tidak satupun orang yang menyukai pernikahan tersebut. Bahkan semua penduduk dari kedua negara menentang pernikahan mereka. Firo dan Aqua hidup seatap, namun sampai mati mereka tidak pernah saling bersentuhan kembali. Mereka tidak pernah bersatu secara harfiah, tapi cinta mereka, menyatu dan suci.

Cinta butuh keberanian. Firo dan Aqua telah berani untuk tetap menjalani hubungan ini dengan segala akibat untuk ditanggung.



Sayang, kita berbeda. Aku dari keluarga berada, kamu keluarga yang sederhana. Segala perbedaan yang ada membawa jarak yang memisahkan kita. Jarak jugalah yang benar-benar memisahkan kita berdua saat ini. Aku disini, kamu disana.

Sampai sekarang aku nggak pernah memandang harta adalah status yang patut dibanggakan. Aku masih ingat katamu dulu, “Orang kaya dan orang miskin itu sama aja sih sebenarnya, orang kaya sebenarnya orang miskin dengan uang, lalu orang miskin yang biasa disebut orang-orang itu ya orang miskin tanpa uang. Karena sesungguhnya harta kita itu hanya titipan Tuhan.” Aku setuju dengan kata-katamu. Tapi sayangnya orang tuaku memandangmu dari harta, mereka benar-benar matrealistis. Aku kira yang seperti itu cuma ada di sinetron-sinetron, ternyata dalam kehidupan ini benar-benar terjadi, dalam keluargaku sendiri malah.

Orang tua yang tidak merestui, ditambah lagi jarak tempat tinggal kita sekarang, kadang membuat aku ragu, bukan ragu ke kamu, tapi ragu ke diriku sendiri, apa aku sanggup jalanin hubungan ini?

Jujur, sering aku pengen banget menyerah, tapi setiap ingat waktu dulu kita berpisah, yang aku spontan ngomong ke kamu, “… jarak sejauh apapun nggak bakal ngebuat kita jauh, karena jarak bukanlah ukuran untuk mendapatkan yang terbaik. Yang buat jarak itu jauh sebenarnya kita sendiri, yang buat hubungan jarak jauh itu berat sebenarnya karena hati kita terlalu kecil untuk menopangnya ….”

Saat itu aku takut banget, aku takut nggak sanggup, aku takut sakit, aku takut ninggalin kamu, aku takut kalau aku berpaling dari kamu, aku juga takut hal sebaliknya. Sekarang, setelah hampir setahun kita berpisah, aku mengerti bahwa kita sanggup menjalani hubungan walaupun diatas berjuta-juta keraguan yang hadir tiap kali komunikasi kita nggak lancar.
Saat ini kita sudah nggak bisa dengan mudah lagi ketemu, entah kapan kita akan bertemu, aku kuliah disini, kamu disana.
Orang tua yang nggak suka dan jarak yang memisahkan. Kombinasi yang rumit, ngebuat aku benar-benar sedih dengan keadaan ini, tapi sungguh beruntung aku punya kamu, selalu bisa buat aku tenang, buat aku bahagia. Kamu jugalah alasanku kenapa aku tetap kuat jalani ini semua. Tapi, satu hal yang ingin aku tanyakan, dengan semua perbedaan ini, apakah kita bisa bersatu? Ataukah kita selamanya akan seperti Firo dan Aqua dalam ceritaku?

Sayang, yang aku tahu, cinta antara aku dan kamu itu atas sepengetahuan Tuhan, dan dengan ijin Tuhan.

Sayang,
Aku tak mengerti kapan esok hari tiba
Aku tak memahami bagaimana langit mengubah raut wajahnya
Aku tak sanggup mengartikan keikhlasan angin berhembus
Tapi aku mengerti dan memahami kapan bahagiaku tiba:
Ketika kau peduli padaku, cinta
Ketika kau ada untukku, cinta
Dan ketika kita saling bertukar kata
Aku cinta padamu kasih

Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu tambah dewasa, semakin bijak dalam bertindak. Jadi lebih baik dalam segala hal, ya ….

Makasih udah mau nemenin aku selama ini.

Aku cinta kamu.


Surabaya, 2 Juni 2009.

Setiap kata yang ia tulis dalam email itu menggetarkan hatiku. Beruntung aku memilikinya, perempuan yang tak pernah menyerah menghadapai segala rintangan, mampu menguatkan saat lemah, meyakinkan ketika ragu, dan membahagiakan kala sedih. Entah bagaimana hidupku bila tanpanya, dan bila dulu aku tak mengenalnya mungkin hidupku tak akan seindah ini.

Aku balas emailnya, penuh cinta serta rindu yang menggebu mengharapkan temu.


Surabaya, 18 November 2009.

“Le …, kamu masih nunggu Tanti pulang?”

Aku hanya menjawab dengan anggukan. Aku bosan dengan pertanyaan semacam ini. Kenapa orangtuaku tak mau sekalipun mengerti kesungguhan hubunganku dengan Tanti. Setiap pertanyaan mereka bagiku adalah sebuah keraguan, ujung-ujungnya menyangkal kalau aku dengan Tanti itu cocok.

“Kamu yakin dia masih suka kamu?” pertanyaan ibu kali ini membuatku mulai hilang kesabaran.

“Bu …! Apa ibu ndak tahu setiap akhir minggu atau kalau kita berdua ada waktu luang telepon-teleponan. Nadaku agak meninggi.

“Ibu tahu, Le …. Tapi masalahnya bukan itu, Tanti itu kuliah S2 disana ….”

“Lalu aku cuma anak D3? Apa sih Bu masalahnya lulusan D3 nikah dengan lulusan S2?” aku memotong pembicaraan ibu.

Ibu beranjak dari kursinya, ia mendekat duduk disebelahku sekarang.

“Dengar ibu selesai ngomong dulu to ….” Ibu menepuk-nepuk pundak kananku. “Ibu juga pernah ditinggal Bapakmu merantau selama 4 tahun lebih, ndak ada kabar sama sekali. Sekali ibu dapat kabar, Bapak ndak ngasih alamatnya tinggal, Ibu ndak bisa balas kabarnya. Sebelum ada surat itu, Ibu kira bapakmu sudah kawin lagi dan yang paling Ibu takutkan Bapakmu meninggal. Sejak bapakmu ndak ngasih kabar, ada saja lelaki yang berusaha mendekati ibu. Alhamdulillah, Le …, Ibu masih ingat sama pernikahan. Cobaan perempuan jauh dari laki-laki yang ia cintai itu sangat berat lho, Le. Yang sudah nikah saja sering gagal. Apalagi yang belum nikah …, Ibu takut kamu sakit hati nantinya.”

Aku mengerti maksud ibu. Tapi ibu tak perlu khawatir karena aku dan Tanti lebih kuat dari setan manapun yang berusaha memutus hubungan ini.

Kuletakkan kepala di bahu ibu, “Bu …, tenang saja, aku sama Tanti itu udah sama-sama dewasa, sama-sama ngerti, Ibu ndak usah khawatir lagi ya.” Aku mencoba meyakinkan ibu.

Ibu tersenyum, “Iya, Le …. Ibu ngomong gitu juga ndak maksud yang buruk, cuma mau ngasih tahu kamu.”

“Iya, Bu …, Awan ngerti.”


Surabaya, 5 April 2010.

Rindu itu seperti balon, waktu adalah udara yang ditiupkan kedalamnya, dan jarak adalah tali yang mengikat balon itu. Semakin lama waktu memisahkan semakin besar balonnya, semakin jauh jarak memisahkan dua manusia maka tali yang mengikat pun semakin kencang. Aku rasa balon yang aku miliki sekarang sudah sebesar Airbus.
Akhir-akhir ini susah sekali menghubungi Tanti bahkan diakhir pekan sekalipun. Sekalinya bisa dihubungi ia hanya bisa ngobrol sebentar. Rasa rindu ini pun merengek-rengek ingin bertemu.

Akhirnya teleponku diangkat.

“Halo sayang, gimana kabarnya minggu ini? Susah banget hubungin kamu.”

Hallo, who is this?” bukan Tanti yang menjawab telponnya, tapi suara laki-laki yang sama sekali nggak aku kenali.

Ada suara yang berbeda bicara ditelpon, “Hallo ….”

“Kecil, ini aku. Itu tadi siapa?” pertanyaanku menudingkan curiga.

“Ohh …, kamu sayang. Emh … yang tadi …, oh … itu temen, kok. Temen lagi main ke apartemen.” Nada bicaranya gelagapa, membuatku penasaran. Ah, masa bodohlah siapapun tadi, aku hanya ingin bicara dengan Tanti, sudah seminggu lebih rindu ini ingin diletuskan.

Nggak terasa sudah satu jam lebih aku ngobrol dengan Tanti, tumben bisa selama ini. Masa bodohlah dompet jebol, yang penting aku bisa mendengar calon perempuan yang aku lamar nanti.

“Sayang, maaf ya, aku akhir-akhir ini sibuk banget.”

“Iya, nggak pa-pa, kok ….” Dalam hati kecewa juga sebenarnya.

“Mulai sekarang aku juga kayaknya bakal lebih sibuk, deh. Banyak penelitian yang harus aku lakuin, belum juga buat jurnal dan banyak tugas-tugas lainnya.”

“Iya … iya, aku ngerti, kok. Duh, yang udah mau selesai kuliahnya. Udah siap dilamar belum?”

“Hehe … makasih ya kamu mau ngerti aku. Sayang, udah dulu ya? Ini masih banyak yang perlu aku kerjain.”


“Iya, Kecil, sama-sama. Semangat ngerjainnya, semoga sukses. I love you….”
“I love you too….”

Aku semakin yakin bahwa Tanti adalah pilihan yang tepat.


Surabaya, 29 Agustus 2010. 19.17 WIB
Loh ini mobil siapa, ya? Kok aku belum pernah lihat. Masa bapak beli mobil baru? Ah, nggak mungkin, duit dari mana coba. Itu dari dalam rumah kok kayaknya ada rame-rame, ada rame-rame apa, ya?

“Assalamu ‘alaikum ….”

Serentak suara dari ruang tamu menjawab, “Wa alaikum salam ….”

“Nah, ini dia calonnya udah datang. Wan, sini, sini, duduk sini.” Bapak memanggilku.

Bapak ngomong apa sih? Calon? Calon apa maksudnya. Saat aku memandang seluruh isi ruang tamu, pandanganku berhenti pada seorang perempuan di dekat bapak. Masih muda, manis dan sesuai kriteria Bapak. Jangan-jangan Bapak ….

Aku duduk di sebelah Bapak. Pikiranku masih dipenuhi tanda tanya, aku berharap secepatnya ada yang memberi penjelasan padaku.

Bapak angkat bicara, “Jadi gini, Le …, temen Ibumu ini, Bu Rina punya anak perempuan yang cantik ini.” Bapak menunjuk kearah perempuan yang menyita perhatianku dari tadi. “Namanya Fatma, kenalan dulu dong.” Kesimpulanku mulai mengerucut.

Aku mengulurkan tangan yang segera Fatma sambut. Aku mengucapkan namaku, ia mengucapkan namanya, suaranya lembut, merdu rasanya di telinga. Ah, aku nggak boleh kebawa gini, kan udah ada Tanti.

Bapak melanjutkan pembicaraannya, “Dan Bu Rina ini ingin anaknya segera menikah.” Ya, aku sudah bisa menebak sekarang, ini perjodohan kan maksudnya? “Keluarga Bu Rina kesini ingin menjodohkan Fatma dengan kamu. Kamu bersedia, Le …?” Benar, ini perjodohan!

Aku tersenyum kikuk, bingung bagaimana harus memutuskannya, iya atau nggak. Kalau aku memilih iya, sama saja aku meninggalkan Tanti begitu saja yang sudah enam tahun menjalin cinta denganku, nggak mungkin aku melakukannya, aku sangat mencintainya. Kalau nggak mau pasti akan membuat malu bapak dan ibu, ditambah mereka berdua sudah ngebet ingin aku segera menikah, mereka pasti marah karena aku melewatkan begitu saja kesempatan menikah.

“Maaf, bapak ibu semuanya, bukan saya menolak keinginan bapak ibu, tapi saya belum mengenal Fatma dengan baik dan menikah juga bukan keputusan yang mudah. Jadi saya meminta waktu untuk memutuskan jawabannya.”

“Mau waktu sampai kapan? Sampai si Tanti itu lulus?” Bapak terlihat nggak suka dengan ucapanku.

Aku melanjutkan kembali ucapanku tanpa memperdulikan ucapan bapak. “Jadi begini, saya belum kenal Fatma, begitu juga dengan Fatma, dia belum kenal saya. Mungkin saja ada ketidak-cocokkan diantara kita …,” Melihat banyak orang diruangan ini menatapku dengan pandangan nggak suka, aku cepat-cepat melanjutkan kalimatku, “Tapi, ndak menutup kemungkinan juga kita berdua ini cocok. Biar kita lakukan pendekatan dulu, itu maksud saya.” Wajah-wajah orang di ruangan ini kembali tenang.

“Ya sudah, ndak pa-pa kok, Mas Awan. Silahkan melakukan pendekatan biar tambah cocok, soalnya ibu ngeliatnya kalian berdua memang cocok, kok. Ya?” Ibu Fatma menanyakan ke semua orang diruangan ini, dan yang lain pun menyahuti setuju.

Paris, 25 September 2010.

-tulisan blog-
Tulislah kisah yang kamu inginkan sebagai akhir dari kisah cintamu. Tapi tunggu, apakah kamu sudah menyelipkan doa disetiap tinta yang kamu goreskan? Aku khawatir kamu lupa mengucapkan doa. Saranku, lebih baik kamu hapus lagi tulisan tentang kisah ini, tulis kisah cinta yang baru, yang tak membeku.
Setiap detik adalah persimpangan, sebagai kekasih yang diliputi keraguan, mungkin saja aku memilih jalan yang berbeda denganmu. Setiap detik adalah persimpangan, sebagai kekasih yang rindu akan kebersamaan, mungkin saja aku lebih memilih mengikuti orang yang mengerti jalan daripada membuka peta yang kau berikan.
Cinta akan selalu tahu jalan pulang sejauh apapun jarak harus ditempuh. Tapi bagaimana bila ia menemukan rumah baru, rumah yang lebih nyaman untuk ditinggali? Cinta akan selalu mengenali rumah sebanyak apapun waktu memisahkan. Tapi bagaimana bila rumah itu sudah berubah, lain lagi ceritanya.
Apakah tetap bisa dikatakan cinta bila manusia tak lagi setia? Apa salah bila tak setia karena semua yang pernah dibicarakan telah luntur semua maknanya? Sekuat apapun sebuah hubungan cinta, bila ia berbeda, tak lagi sama, sekuat apapun semesta, ia tak akan sanggup walau sedetik saja untuk menunda berpisah.


Surabaya, 26 September 2010.

Aku nggak pernah sungguh-sungguh melakukan pendekatan dengan Fatma. Aku nggak pernah berniat untuk mengerti ia. Semua yang aku lakukan kepadanya hanyalah formalitas belaka di depan kedua orang tua. Fatma telah mendengar banyak sekali ceritaku tentang Tanti, tapi tak sekalipun ia menunjukkan sikap tak suka, ia tetap tenang mendengarkanku setiap kali bicara tentang Tanti, terkadang sesekali ia memberiku saran.

“Fat, sebenarnya alasan kamu melakukan perjodohan ini apa? Di luar sana pasti banyak lelaki yang jauh lebih baik dan lebih mapan dariku yang suka kamu …,”

Fatma memotong ucapanku, “Aku melakukannya untuk orangtuaku, Mas. Untuk kasih sayang mereka.”

Aku terdiam mendengar ketulusan hati Fatma. Suasana hening sesaat.

“Tapi, apa kamu menyukaiku?” pertanyaan ini terucap begitu saja dari mulutku.

“Mas, apa kalau cinta itu harus diucapkan? Mulut itu ringan sekali bicara, ndak sekalipun ia ingat bahwa waktu bisa dengan mudah menghapus kata yang pernah diucap. Lagipula, apa perhatian dan semua ini ndak cukup untuk membuat Mas mengerti?” Raut wajahnya menunjukkan kesedihan, Fatma lalu masuk ke dalam rumah.

Aku menyesal telah membuka pembicaraan tadi. Aku terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang ia ucapkan terakhir kali tadi.


Hatiku panas ketika membaca tulisan di blog Tanti semalam. Kalau ada masalah dengan hubungan ini kenapa nggak dibicarakan saja. Kalau memang ada yang nggak ia sukai seharusnya nggak seperti ini. Ini nggak seperti biasanya Tanti.

HP-ku berdering. Tanti!

“Halo, maaf aku nelpon kamu jam segini. Besok aku pulang ke Indonesia, tapi nggak bisa mampir ke Surabaya, maaf. Aku dua minggu di rumah. Apa kamu bisa ke Tangerang?” bicaranya tanpa jeda, seolah nggak ada waktu untuk bicara. Tanpa basa-basi juga, ini seperti bukan kebiasaan Tanti.

Eh, apa yang ia bilang tadi? Pulang? Aah … akhirnya aku akan bertemu juga dengan cinta yang lama nggak bertemu, akhirnya balon ini akan pecah juga. Tapi rasa senang ini nggak mampu menutupi kecurigaanku kepada blog miliknya.

“Kamu pulang? Haha,… akhirnya rindu ini nggak akan lagi merengek ke kamu, Kecil. Iya, iya, aku bisa kok ke Tangerang, jangankan ke Tangerang, nyusul ke Prancis sekarang juga aku berangkat, hehe ….”

“Hehe … makasih, ya.” nada bicaranya terdengar canggung.

“Eh, sayang, tulisan di blog itu apa maksudnya?” pertanyaan ini dari awal telepon ingin sekali aku tanyakan.

“Oh, itu …, entar aja ya kita obrolin kalau udah ketemu. Maaf ini aku lagi sibuk, udah dulu, ya ….”

“Tuut…tuut…tuut….” Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, telepon sudah mati duluan, sepertinya ia benar-benar sibuk.


Tangerang, 1 Oktober 2010.

Harusnya sebuah pelukan hangat menyambut kekasih yang sudah lama tak bertemu. Namun ketika akan ku peluk, Tanti seolah enggan, ia menghindar. Ada apa ini? Apa ia bercanda?

Kita berdua duduk berhadapan di sebuah kafe dekat rumahnya.

“Aku mesti ngomong sesuatu ke kamu, tapi kamu janji nggak akan marah .”

Aku jadi bingung dengan ucapannya yang tiba-tiba seperti ini. “Loh, kok aku marah, kenapa memangnya?”

“Janji dulu nggak akan marah!”

“Bawel ah, iya, iya … aku janji.” Dua jemariku mengacung keatas.

Hening sesaat

“Ini juga tentang tulisanku di blog. Kamu ngerasa nggak kita berdua udah nggak kayak dulu?”

“Loh, maksud kamu apa, Kecil? Aku nggak ngerti.” Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.

“Ya..., aku ... kamu,” kata Tanti dengan nada suara pelan, sambil mengarahkan telunjuknya ke arahku, “udah bener-bener berbeda daripada pertama kali pacaran.”

“Loh, kok bisa? Maksud kamu gimana?

Tanti menjelaskan semuanya yang ia rasakan selama ini kepadaku, bagaimana rasanya kesepian, nggak ada kekasih yang memanjakannya, susah banget setia saat banyak lelaki yang mengatakan serta menunjukkan cinta kepadanya. Hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang cocok, yang lebih baik daripada aku. Ia orang yang mengangkat telpon waktu itu.

“Masalahnya bukan karena harta atau status kamu …,” Ia menyangkal pernyataanku yang meremehkannya seperti halnya Bapak. “Masalahnya itu kamu nggak ada di sana, kamu nggak ada saat aku butuhin, aku nggak nyalahin kamu, tapi aku nggak bisa hidup kayak gini terus, aku nggak bisa setia sama long distance relationship.”

Setiap kata yang ia ucapkan adalah satu pedang yang menusuk hati. Entah sudah berapa ratus kata yang ia ucapkan padaku, perihnya tak menyisakan sedetikpun untuk sejenak merasa nyaman.

“Lalu kenapa baru bilang sekarang?!” aku mulai tak bisa mengendalikan emosi.

Air matanya mulai meleleh. Ah, ternyata wanita juga ada yang buaya!

“Itu karena kamu terlalu percaya sama aku, kamu terlalu percaya sama hubungan ini, kamu terlalu percaya kepada akhir bahagia cerita kita, aku nggak tega buat ngehancurin rasa percaya kamu.”

“Kalau memang nggak mau hancurin rasa percayaku, harusnya kamu itu nggak nyari cowok lain!!” kata-kataku mulai menjadi bentak.

Ia kini menangis. “Maafkan aku, Wan. Aku nggak bermaksud seperti ini ….” ia mencoba meraih tanganku namun aku meghindar.

Aaarggh …! Kenapa harus berakhir seperti ini? Bukankah dulu aku dan ia berjanji untuk mencintai sampai mati? Bodoh! Itu kan hanya bualan anak-anak. Aaarrghh …! Manusia memang adalah raja dan ratu bagi janjinya masing-masing. Benar kata Fatma, mulut itu ringan sekali bicara, nggak sekalipun ia ingat bahwa waktu bisa dengan mudah menghapus kata yang pernah diucap.

Kita berdua saling terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Berat hati aku mengucapkan kata-kata terakhir sebelum meninggalkan Tanti untuk selamanya. Aku berusaha mengatakannya dengan suara tenang, berharap ia sadar bahwa aku memang benar-benar mencintainya, lebih dari yang ia tahu. Sesakit apapun aku saat ini, bagaimanapun juga ia adalah orang yang aku cintai.

“Tan,” Ia mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk, matanya sembab. “makasih udah ngajarin aku tentang sebuah kesalahan dari penantian panjang yang penuh dengan keyakinan.” Aku genggam tangannya, “Tan, makasih udah mencintaiku, makasih juga udah buat aku bahagia. Seandainya aku nggak pernah kenal kamu, seandainya aku dan kamu nggak menjalin hubungan, hidupku pasti nggak sebahagia seperti sekarang. Terimakasih, Tan.” Kupaksakan wajahku tersenyum untuknya.

“Wan, maaf aku nggak pernah bisa memberikan yang terbaik buat kamu …, aku selalu ngecewain kamu.”

Aku beranjak dari tempat dudukku dan menghampirinya. “Kamu sudah memberikan lebih dari cukup, Tan ….” Aku kecup keningnya untuk yang terakhir kalinya. “Selamat tinggal Tan ….”


Surabaya, 10 November 2010.

Aku marah kepada diriku sendiri karena selama ini telah menyia-nyiakan banyak sekali waktu hanya untuk perempuan yang lebih memilih menjalani kisahnya dengan orang asing daripada dengan lelaki yang telah sangat ia kenal dan berjuang mati-matian memperjuangkan cintanya.

Ah, sudahlah, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Bagaimanapun juga ia tak akan pernah bisa dirubah, lagipula masa lalu telah mengajarkan banyak hal penting untuk menjalani kisah hidup selanjutnya.

Sekarang aku sudah berhasil mempraktekkan cara move on terampuh, yaitu mencari seseorang yang baru. Seseorang yang sanggup mengobati luka, menyegarkan hati yang kering kerontang, mampu membahagiakan hati yang sedih. Semua hal itu aku temukan dalam diri Fatma.

Kali ini aku nggak akan mencintainya dalam angan-angan kebahagiaan masa depan. Aku akan mencintainya hari ini, tanpa menjanjikan apa-apa kecuali yang diinginkan Tuhan. Percaya kepada cinta itu lebih penting daripada percaya kepada kebahagiaan yang belum tentu datang, karena tak selamanya cinta itu bahagia. Aku akan menjaga cinta ini bagaimanapun kisahnya nanti, aku tak akan membiarkan cinta ini terpisah oleh jarak, aku juga tak akan membiarkan cinta ini berjarak.

Kali ini keyakinan hati ini nggak hanya datang dari aku saja, tapi juga dari Fatma.

“Pak, Bu …, sudah siap jadi mertua belum?” pertanyaanku disambut gelak tawa mereka berdua.