Selasa, 08 Desember 2015

Baper



Repot ... repot... repot.... Entah apa salahnya berbuat baik kepada lawan jenis. Berbuat baik, hanya berbuat baik untuk menjaga silaturrahim menjadi tetap baik. Di masa ini di mana setiap orang bisa dengan mudah mengetahui kehidupan lainnya, berbuat baik seringkali disalah artikan, lebih-lebih bila kepada lawan jenis. Yang geer seringkali bukan yang berbuat baik, tapi yang diperhatikan. Seolah-olah seseorang berbuat baik itu hanya ingin mendapatkan hatinya. Ah...punya hati kok lemah, kebanyakan nonton ftv pasti, film tidak valid.

Saya bingung, sampai batas manakah berbuat baik itu berarti menunjukkan rasa suka. Karena saya rasa ada perbedaan yang besar bila seseorang berbuat baik karena ingin mendapatkan hati dengan orang yang murni, tulus berbuat baik untuk menjaga hubungan persaudaraan. Mungkin terlalu banyak curiga yang tersedia di hati, atau memang kamu adalah orang yang banyak disukai lawan jenis, sehingga dengan mudah kamu pukul rata semua yang berbuat baik itu berusaha mendapatkan hatimu. Berarti dari awal yang geer dan baper sudah jelas siapa. Lagipula bila selama ini banyak yang mendekatimu harusnya kamu tahu bedanya antara yang abang abang lambe dengan yang sekedar berbuat baik.

Bila masih seperti ini hingga kelak, entah sampai kapan. Saya tidak akan menaruh harapan terlalu tinggi pada kebaikan di masa depan, karena bila ada dua orang yang belum berkekasih dan saling berbuat baik, semua orang akan bersyak wasangka mereka berdua sedang merajut tali asmara. 

Berbuat baik, berbuat baiklah, memberi perhatian ke lawan jenis di masa lalu dianggap menjaga tali persaudaraan dan kini bergeser maknanya menjadi lebih gampangan. Mungkin karena di masa ini banyak anak muda yang main-main dengan cinta, sehingga makna tentangnya pun gugur satu per satu. Ah, kamu punya hati jangan terlalu lemah, baru ditanya kabar sudah  dikira suka, baru dibantuin pindahan kos udah dibilang suka, baru diajak ngobrol udah dibilang suka, terus kita mau hidup bagaimana? Sudah, berhenti nonton ftv dan kurangi nyemil mecinnya. Berbuat baik, berbuat baiklah, peduli amat perasaan orang, dan kalau dibaikin ya sudah terima saja, kalau lucu ya ketawa jangan malah suka, kalau laper ya jangan baper kalau diajakin makan. Urusan perasaan biar jadi urusan masing-masing, kan udah pada gede

Rabu, 02 September 2015

Jomblo Yo Ben



"Semoga cepat dapat jodoh, ya!" jamak terdengar dari mulut-mulut mereka. Entah doa, basa-basi atau bualan belaka. Kalimat serupa juga berlompatan, riuh mengisi obrolan banyak anak muda. Sebegitu mengerikannya kah ketika jodoh belum juga tiba?

Di media sosial, rupa-rupa postingan membicarakan hal sama, Ciri-Ciri Wanita Yang Layak Dinikahi, Memantaskan Diri, dan tulisan-tulisannya yang membahas jodoh. Bosan? Tentu saja! Muak? Iya! Seolah-olah masalah paling penting dalam hidup di usia-usia ini adalah perihal siapa siapa jodohnya dan kapan ia tiba.

Obrolan semacamnya bila hanya dijadikan kelakar aya akan sah-sah saja menerima, namun bila selalu menjadi bahan obrolan, seolah hidup hanya tentang cinta dua anak manusia. Sek-sek, apakah mereka membicarakan hal serupa karena begitu kesepiannya kala jodoh tidak juga tiba? Ha...ha...ha.... menggelikan! Berlaku baik biar jodoh tiba, berkarya biar jodoh tiba, nyari duit biar jodoh tiba, ealah hidup kok sependek itu tujuannya. Tapi, ya mau bagaimana lagi kalau memang bahagiamu hanya bergantung pada kisah-kisah asmara semata.

Apakah bahagia kita diukur berdasar dengan siapa kita saat ini? Bila jawabmu iya, matahari, bulan dan bintang telah selesai tugasnya.

Kita ini sudah terlalu banyak protes kepada Tuhan, mbok yao jangan nambah-nambahin pikiran Tuhan dengan rengekanmu disegerakan jodoh. Dikasih hujan, nggrundel, dikasih panas ngomel, jodoh belum datang ngeluh, jodoh udah datang galau. Ealah.... Jangan jadi generasi yang pandai menuntut, sampai lupa menghitung apa yang sudah dimiliki. Jangan jadi generasi egois, merengek sedemikian heboh tapi nasib kawan sendiri tiada pernah sekalipun melintas di pikiran.

Terimo ing pandum.

Dapet atau belum jodoh itu ya terserah Gusti Allah, siapa tahu itu juga bentuk ujian, siapa tahu pula itu bentuk kasih sayang. Kenapa sih perlu curiga kepada Yang Maha Pemberi? Ia paling tahu kapan waktu yang tepat untukmu, sementara kamulah yang paling sok tahu kalau besok, lusa atau minggu depan adalah wkatu yang tepat.

Dapet jodoh atau belum itu ya sak kersane Gusti Allah. Lah emang ini balap karung? Cepat-cepatan menikah? Toh menikah juga bukan perlombaan. Pernikahan adalah salah satu titik perjalanan hidup, sama juga dengan mendapatkan rejeki, lahir, mati, bertambah umur dan lainnya. Semua ada waktunya dan ada takarannya.

Dapet jodoh atau belum itu ya sak kersane Gusti Allah, toh hidup harus berlanjut, toh nikmat tak kan kelar terhitung jumlahnya untuk disyukuri. Tetap berbahagia, tak usah risau, bila belum juga tiba, berarti Gusti Allah ingin kamu fokus mengerjakan hal lainnya terlebih dahulu, atau membantu lainnya yang juga sedih hatinya karena tidak tercukupi kebutuhan dasarnya.

Wes, sak kersane Gusti Allah, awakdewe mung terimo ing pandum wae.

Jomblo yo ben asal bahagia...

Kalau kata Agus Mulyadi, Jomblo yo ben, tapi hafal Pancasila!




Rabu, 26 Agustus 2015

Sesal Yang Bebas






Yang saya sesalkan begitu dalam, selama bertahun-tahun bukanlah tidak bisa lagi hidup dengannya, tetapi saat bersamanya saya lebih banyak menciptakan luka, kecewa bahkan dosa. Kehidupannya yang sejak semula lurus-lurus saja menjadi mulai belok-belok saat bersama saya. Banyak hal negatif dimana sayalah penyebabnya. Yang seharusnya akibatnya saya tanggung sendiri, malah dia harus turut serta sengsara.

Seperti angan-angan manusia lainnya, saya pun berangan-angan kalau saja waktu itu saya tahu begini jadinya, lebih baik perasaan itu tidak perlu saya turuti sehingga hidupnya akan baik-baik saja.

Kini, seandainya saya memang benar-benar dilupakan, saya akan terima dengan tangan terbuka. Bila, ternyata tidak dilupakan, saya bersedia menjadi sukarelawan. Dilupakan hanyalah sebuah hukuman yang sangat ringan dibanding luka yang saya cipta.

Terluka karena seseorang akan menimbulkan rasa sakit yang besar, namun, perlu untuk diketahui, bahwa melukai pun juga mencipta rasa sakit yang tak kalah hebatnya, meskipun tidak dalam dimensi yang sama. Melukai, bila dan hanya jika menyesal, akan mencipta dua rasa sakit, satu sakit karena melihatnya terluka oleh perbuatan diri sendiri, yang kedua adalah sakit karena menyesal pernah melakukannya, dan hingga entah kapan akan tetap menanggung gelar pendosa.

Setelah tragedi yang pahit, saya masih ingat ia pernah berujar semoga ia adalah perempuan terakhir yang merasakan luka yang saya cipta. 

Bukan hal yang istimewa sebenarnya, karena dengan kebesaran hati yang perempuan miliki, banyak perempuan yang terluka berucap hal yang sama kepada mantan kekasihnya. Tetapi, kalimat itu dan kombinasi rasa sesal yang dalam, membuatnya terpatri kuat dalam benak saya. Sehingga di kemudian hari pun setiap dekat dengan perempuan, dan saya merasa tidak bisa membuatnya bahagia atau sebaliknya, lebih baik untuk tidak dilanjutkan lebih jauh. Jahat memang, tapi dalam hidup, banyak hal-hal yang menyebalkan namun baik untuk menjaga manusia agar tidak terpuruk. Saya pun menjaga perempuan-perempuan dari diri saya sendiri, meskipun itu semua hanya kemungkinan.

Satu hal lagi yang saya ingat betul darinya bahwa setelah tragedi yang pahit itu, ia masih mempercayai saya bahwa kelak saya akan menjadi lebih baik, dan akan melakukan hal-hal yang baik.

Ini juga bukan hal yang luar biasa, bahkan bisa jadi ini hanya ucapan yang dibesar-besarkan olehnya saja sebagai penutup komunikasi agar saya tak menghubunginya lagi. Tetapi, saat itu jiwa saya benar-benar sedang berada di titik terendah, di titik paling menyesal, di titik paling kaget bahwa saya bisa berlaku jahat. Banyak dari ucapannya yang menjadi causa saya bisa seperti sekarang ini.

Selama kuliah saya memutuskan untuk berada dalam tempurung kura-kura, jangan sampai terlalu menarik perhatian, karena kehadiran saya saja sudah membuatnya luka, terlebih bila saya terlalu banyak berkarya. Ha...ha...ha..., iya, iya, padahal ya memang tidak sanggup berkarya saja. Mungkin terdengar aneh, dan dibuat-buat, namun apa sih jadinya dunia ini tanpa keanehan dan hiperbola?

Mengenang kembali ucapannya, saya pun mantap untuk mengolah diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan sebelum sampai pada keadaan itu, maka saya pun harus bersabar untuk meminang anak perempuan orang. Tapi, kalau begini ceritanya saya ya jadi single fighter terus dong...ha...ha...ha... 




Ia kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya: di awal tahun lalu ia menikah. Iya...iya...saya tidak diundang, terjawab kan pertanyaannya. Saya sih, berbaik sangka saja kalau ia menjaga perasaan saya, bisa dibayangkan kalau diundang dan saya datang, berapa banyak undangan yang notabene adalah kawan-kawan lama yang akan menjadikan saya bulan-bulan untuk di bully. Tentu saja lebih baik saya tidak diundang toh, apa ya tega jomblo kronik dijadikan olok-olokan saat hari bahagia pernikahan? Toh juga bisa hemat cost beli undangan.

Kebahagiaannya di hari pernikahan adalah kebahagiaan saya jua. Karena di hari itu juga saya pun lega, ia akhirnya bisa memliki kehidupan bahagia yang baik-baik saja, meski di masa silam saya pernah mencipta luka. Artinya luka yang saya cipta sudah tidak mempengaruhi hidupnya. Ya, hal ini juga didukung oleh karakternya yang kuat, sehingga ia bisa dengan mudah bangkit dari masa itu, kalau kata seseorang yang entah siapa, ia bukanlah perempuan yang membutuhkan laki-laki, tapi perempuan yang dibutuhkan laki-laki.

Rantai sesal yang membelenggu saya akhirnya lepas, ia bahagia, dan saya pun bisa bebas. Apa yang saya lakukan di masa lalu bak sudah termaafkan dan tidak lagi berdampak buruk di kemudian hari. Perlahan, saya mengembangkan sayap, perlahan saya menguatkan nafas, bersiap untuk terbang tinggi dan untuk menyelam lebih dalam. Saya menyiapkan diri untuk berkarya, setelah selama ini tinggal dalam tempurung kura-kura.

Selamat berbahagia...,

NB : 
  1. Saya pernah menuliskannya dalam bait-bait yang tertera di sini
  2. Mungkin bagi yang membaca ada kesan apa sih, alay, lemah, dsb, percayalah, menulis hal serupa membutuhkan keberanian ekstra, karena sungguh, mengingatnya saja sudah harus menelusuri lintasan waktu hanya untuk mengorek kembali luka lama. Perih.
  3. Jangan serius-serius, iya kalau memang cerita sungguhan? Kalau bohong? Siapa yang jamin?





Kamis, 20 Agustus 2015

Paus dan Elang


memang baik terbang tinggi membesarkan nama diri,
namun juga baik menyelam lebih dalam membuat perubahan meski perlahan
-mbak dokter berkacamata-


Beberapa akhir tahun ini, bisa sekolah ke luar negeri seolah adalah sebuah mimpi suci bagi setiap mahasiswa. Mencapainya adalah sebuah kehormatan luar biasa bagi seorang akademisi. Terlebih setelah dialog legendaris, "Ainun, maukah kau ke Jerman bersamaku?". Dialog tersebut selain membuat semakin banyak yang tergiur belajar ke tanah bavaria, juga semakin banyak lelaki jomblo yang sulit mendapat jodoh karena standart penerimaan perempuan adalah dibawa ke Jerman.

Menjadi pengusaha dengan omset menggunung lantas menjadi motivator atau mencapai karir tinggi dengan gaji yang melangit di sebuah perusahaan ternama adalah mimpi suci berikutnya bagi anak muda. Serta tak ketinggalan, berduyun-duyun anak-anak muda membuat prasasti eksistensi diri di atas gunung atau hamparan pasir pantai, mengklaim diri sebagai seorang petualang.

Ada yang salah dengan semua itu?

Tentu saja tidak ada, selama itu adalah keinginan diri dengan visi yang jelas, bukan sekedar ikut-ikutan orang lain. Karena makna yang lahir dari kehendak diri sendiri akan lebih dalam daripada silau akan cerita bahagia orang lain.

Semua hal baik itu adalah tentang perihal terbang tinggi. Kalau semua memutuskan untuk terbang tinggi, apa yang lantas dapat dilihat dari ketinggian sana. Siapa pula yang akan bersedia menemani mereka yang tak mampu terbang.

Ada pula anak manusia yang repot-repot menyelam ke dalam. Mengunjungi satu desa ke desa lainnya, bukan untuk mengumpulkan foto kemudian menjadikannya prasasti eksistensi. Ia menjejak langkah malah untuk mengakui dan merasakan eksistensi dari mereka yang selama ini tak memiliki kesempatan untuk mendapat kemewahan terbang tinggi.

Mereka adalah manusia-manusia di daerah-daerah yang jarang atau bahkan tidak pernah disebut oleh buku pelajaran. Dalam tradisi dan adat yang mereka emban terbang tinggi memiliki konsep yang jauh berbeda dengan apa yang saya sebutkan di awal. Terbang tinggi bagi mereka adalah saat mampu berbuat baik kepada sesama, mematuhi warisan-warisan kehidupan leluhur, serta menjaga agar bumi tetap seperti sediakala.

Anak-anak manusia yang mau repot-repot menyelam itu lantas perlahan menyulam selarik demi selarik bulu agar orang-orang yang mereka kunjungi mampu hidup selayaknya kemewahan yang didapat manusia-manusia yang terbang tinggi itu. Tidak muluk-muluk untuk sekolah keluar negeri, menjadi pengusaha, memiliki karir cemerlang, ataukah mengoleksi foto di berbagai muka bumi. Anak-anak manusia itu hanya berharap orang-orang di daerah ini tercukupi kebutuhan dasarnya.

...

Menjadi elang, terbang tinggi nun jauh melewati awan. Laksana awan-awan pun menyimpan cemburu dan iri tak mampu melayang lebih tinggi dari sang elang. Dari atas sana, awan mampu memandang lebih luas, melihat lebih jauh. Di bawah, di atas tanah, semua makhluk yang tak mampu terbang maupun yang sanggup terbang terpana mengagumi kemampuan istimewa yang dimiliki elang, pencapaian yang tidak semua makhluk mampu lakukan. Elang lantas menjadi simbol kehebatan, keberanian, kemegahan, dan segala kemampuan yang di luar kata biasa. Makhluk lainnya, seperti halnya awan, iri, cemburu, memimpikan suatu saat dapat terbang sedemikian tinggi, sebuah pencapaian yang tampak begitu membahagiakan. Mereka bergegas menyulam sayap dengan segala hal yang dimiliki, berharap sayap yang dimiliki kelak dapat menandingi atau bahkan mengalahkan rekor terbang elang. Mendapati puja puji sedemikian banyak, elang pun menikmatinya, tak mau melewatkan satu detik pun momen ketika ia menjadi makhluk yang paling istimewa di mata makhluk lainnya...kala itu.

Nun jauh dari tahta sang raja langit, hiduplah seekor paus. Dari lautan ia tertarik oleh tempik sorak yang riuh di daratan. Ia tergoda untuk mencari tahu apa kiranya yang membuat suasana begitu riuhnya. Dilihatnya sebuah siluet hitam kecil di angkasa, terlihat hampir seperti sebuah titik saja dari tempat paus berdiam. Tak salah lagi duga paus itu adalah elang, tak ada yang lainnya yang mampu mengungguli awan. Paus menyemprotkan air tinggi-tinggi guna turut merayakan kebahagian lainnya. Adalah baik untuk ikut serta berbahagia bila yang lainnya berbahagia, dan juga baik untuk menemani mereka yang sedih hatinya. Teringat hal itu, paus tak berlama-lama larut dalam perayaan itu. Kemudian ia berlalu, menyelam, menuju ke pedalaman.

Elang, terbang tinggi tak perlu bersusah payah serupa paus. Di atmosfer, elang bebas menghirup udara, dan lincah memainkan gerak-gerik udara. Paus, dengan segala kekurangannya, suka rela menahan nafas berjam-jam untuk mencapai tujuan. Sampai di kedalaman pun tak banyak yang bisa dilihat, pun hanya sedikit cahaya yang tak kehilangan tenaga saat menuju ke sana. Sampai di kedalaman, paus menemukan mereka yang kesepian, ditinggalkan, tak lagi dihiraukan. Mereka berada di kehidupan minor karena untuk menyelam sedalam itu saja membutuhkan usaha yang perlu ketelatenan, ketahanan fisik dan mental, serta hati yang tulus. Tak ayal, yang mau bersusah payah menyelam ke sana pun tak banyak. Paling-paling yang lainnya menyelam hingga terumbu karang lalu kembali ke daratan.

Paus, dengan senyumnya yang ramah seperti biasanya, menyapa satu persatu penghuni kedalaman, bertanya perihal  berlangsungnya kehidupan di sana, menghibur yang duka, mengobati yang luka, membesarkan hati yang nelangsa. Selesai kunjungannya yang di rasa singkat oleh makhluk-makhluk pedalaman, paus bergegas ke permukaan, menghirup nafas serta menceritakan kehidupan di pedalaman sana. Tak banyak yang tertarik dengan cerita paus karena semuanya sedang sibuk merajut sayap masing-masing untuk mampu terbang, atau sibuk mencari bahan-bahan merajut agar keluarganya mampu terbang. Setiap kembali ke kedalaman, paus tak selalu mendapat teman baru untuk menemani perjalanannya, pun terkadang kawan lamanya tak lagi sanggup meneruskan perjalanan. Sayangnya paus tak mengenal menyerah dan tak pula didera sedih, ia tetap mantap menempuh perjalanan menuju kedalaman ... setiap hari.

Bilakah ada yang bertanya, apakah paus tak mampu terbang? Seluruh makhluk akan menjawabnya tanpa keraguan, bahwa paus sanggup melakukannya. Dulu, di suatu masa, paus mampu terbang hingga ke bulan demi menyanggupi pinta seekor makhluk kedalaman yang memohon untuk di ambil batu bulan sebagai hadiah ulang tahun ibunya yang renta.

...

Kita perlu mengenali diri sendiri, siapakah kita, apa kemampuan kita, untuk apa Gusti Allah menghadirkan kita ke dunia. Kita dapat memilih untuk menjadi elang ataukah paus, keduanya baik. Selama kita tak memilih menjadi bebek, dapat terbang namun hanya sejengkal di atas tanah, mampu berenang namun hanya di permukaan, pun di tanah, ia hanya berani berpetualang bila bergerombol, pula hanya mengikuti kemana arah bebek paling depan menuju. Sendirian atau berkawan elang akan tetap terbang tinggi, paus tetap akan menyelam menuju kedalaman.




Lamongan Muda



Setelah kelas inspirasi Lamongan edisi kedua usai, ada perasaan eman kalau semangat berbagi dengan tulus, kebersamaan yang sudah terjalin dan kenangan yang tercipta pun turut berhenti sampai di sini saja. Bergeraknya anak-anak muda untuk berbagi dengan sesama tanpa sepeserpun dibayar membuat saya menyadari bahwa ini adalah potensi besar untuk membangun kota kecil ini. Sebuah potensi yang selama ini entah tersembunyi di mana.

Dari latar belakang yang bervariasi kami bergerak menuju satu tujuan yang sama. Kami berasal dari usia yang berbeda-beda, memiliki profesi yang beragam, bermukim di kota yang bermacam-macam, kami pun memiliki mimpi masing-masing yang berupa-rupa. Tapi hari itu, kami sedang tidak berminat memberi makan ego, kami malah sedang ingin meninabobokan ego untuk sementara.

Dari sinilah niat kami berangkat, bersama-sama meninabobokan ego, berbagi dengan sesama. Kami berniat untuk bisa membantu lebih banyak lagi masyarakat, berharap dapat menyelami lebih banyak bidang dan permasalahan sosial, kami berkeinginan untuk merangkul sebanyak-banyaknya anak muda di kota ini. Meski saat itu belum ada ide konkret, bermodal semangat kami membentuk sebuah wadah aktualisasi anak muda yang bernama Lamongan Muda.

Di sini, selama tidak memiliki kepentingan politik kekuasaan, semua anak muda boleh turut serta. Semuanya berhak mengaktualisasi diri. Di Lamongan Muda, anak muda dari latar pendidikan, kesenian, pengusaha, olahraga atau apapun diterima dengan tangan terbuka. Dengan semakin banyak yang bergabung dari latar belakang berbeda, akan sangat membantu untuk turut serta urun ide dan tindakan sedikit mengatasi permasalahan yang ada di kota.Di sini, kami akan menyelami kota lebih dalam, kami juga akan berbagi ilmu yang kami miliki, dan kami juga tak lupa saling mendukung untuk sama-sama mewujudkan mimpi masing-masing. 

Kami percaya bahwa kita bisa bermanfaat bagi orang lain dari bidang masing-masing. Di era kebebasan seperti saat ini, akan semakin banyak ide-ide kreatif yang bermunculan untuk menjadi solusi bagi permasalahan yang ada. Dan kami percaya, bahwa ide kreatif hanya akan lahir bila perbedaan dipandang sebagai keindahan bukan sebuah hambatan. Kita dapat berbuat baik kepada orang lain lewat jalan yang kita sukai. Bahkan kami percaya, bahwa mewujudkan mimpi masing-masing, selama tidak melulu untuk tujuan menumpuk kehormatan diri, adalah sebuah jalan untuk memberi manfaat bagi yang lain. Itulah kenapa kami perlu untuk turut serta mendukung mimpi-mimpi anak muda Lamongan.

Adanya Lamongan Muda bukanlah bentuk kritik kepada pemerintahan kota ini. Tetapi adalah sebuah upaya untuk bertanya kepada diri kami sendiri, apakah selama ini kami sudah peduli? Berbagai permasalahan terhampar di sekitar kami dan berbagai kemudahan yang kami dapat sehingga tidak mengalami masalah tersebut, tidak membuat kami lantas tidak acuh terhadap masalah-masalah tersebut. Pendidikan yang perlu banyak bantuan di berbagai aspek, pernikahan di bawah umur, fungsi pusat kesehatan yang belum maksimal, perekonomian yang masih mengandalkan keahlian menjadi buruh, sanitasi yang belum baik, dan berbagai masalah lainnya.

Kami tahu, kami tidak akan mampu membantu menyelesaikan segala permasalahan tersebut, tapi kehadiran kami setidaknya bisa meringankan beban sebagian manusia lainnya. Satu hal yang saya tanamkan betul dalam benak saya adalah, manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Selasa, 11 Agustus 2015

Penasehat Tersumpah





Gusti Allah memang Maha Guyon...

Sedekade terakhir ini, hidup saya kira-kira seolah hanya mampir guyon sama Gusti Allah. Khususnya untuk urusan asmara. Bagaimana tidak, semenjak sedekade tak kurang dari puluhan orang yang mengandalkan saya untuk membantu urusan asmaranya tapi saya ya tetap saja menjadi single fighter. Sejak orang berbondong-bondong berbagi keluh kesah masalah hidupnya kepada saya, resmilah sejak saat itu saya menjadi seorang penasehat tersumpah

Kita pasti punya satu teman yang tak memiliki hubungan apapun dengan seseorang, atau kasarnya jomblo, tapi sangat handal memberi solusi untuk tiap-tiap masalah yang diadukan kepadanya, terlebih masalah, bak ia telah bergelar profesor untuk urusan tersebut. Kalau kamu tak punya, sangat mungkin orang tersebut adalah dirimu sendiri. Tak perlu berkecil hati, atau sesak dada, karena kamu tak sendirian, ada aku.

...

Bermula dari awal-awal anak-anak ABG berhak punya handphone, urusan menjadi penasehat asmara dimulai. Kawan dekat, teman sekolah, teman di sekolah lain, hingga nomor nyasar pun bisa berujung curhat tak berkesudahan. Dari bagaimana cara mengerti lawan jenis, tips-tips nembak  yang ciamik, sampai bagaimana meyakinkan orangtua kalau dirinya sudah punya pilihan hidup yang ... sejenis.

Rupa-rupa masalah asmara dan hidup silih berganti mampir, mereka yang bercerita pun silh berganti datang dan pergi. Namanya juga hidup, mengharap adanya kekalan hanyalah isapan jempol semata. Entah dimana saja mereka sekarang, punya masalah apa saja saat ini, saya tak pernah tahu. Pada beberapa teman yang pernah curhat dan sekarang berjarak, terkadang saya mencari tahu, sekedar untuk memastikan, ia telah hidup dengan baik.

Kadang, saat sepi dan ego sedang tinggi, saya bertanya pada diri sendiri, apakah mereka tidak merasa berhutang budi? Tapi, tak usah diambil hati, itu hanya pertanyaan saya yang sedang tak tahu diri saja.

Sementara yang lain sudah bergonta-ganti pasangan, pun ada yang telah naik pelaminan, bahkan punya anak yang lucu, saya masih saja sendiri, membolak-balik handphone, berharap ada pesan dari Gusti Allah, jodohmu yang berkacamata sudah dekat, arah jam 2, pakai rok sama sneaker. Seketika saya menoleh ke gadis itu, mata saya berkaca-kaca kemudian, dan saya balas pesan tadi, Ya Allah, matur suwun sanget nggih.

Dosen Fitofar membangunkan, ternyata saya ketiduran di ruang kuliah.

...

Saya juga tidak tahu apa alasaan teman-teman sejak bermusim lalu meletakkan beban hidupnya di punggung saya yang ringkih. Mungkin, mungkin loh, cuma mungkin saja, teman-teman tak tahu beban yang saya pinggul untuk diri saya sendiri, karena yang diketahui hanya saya yang seorang badut. Tapi, saya bersyukur, tidak semua orang bisa menjadi tempat bersandar, tidak semua orang sanggup menjadi pendengar yang sabar. Kalau saya boleh geer, Gusti Allah berarti memang sengaja memilih saya. Atau Gusti Allah tahu saya kebanyakan gabutnya.

Seorang teman yang LDR, sudah lelah dengan sikap kekasihnya yang cuek. Padahal cara menipu jarak adalah dengan tetap berkomunikasi sesering saat mudah bertemu. Hubungan yang hampir kandas itu terselamatkan, setelah saya sempat membuatnya menangis terharu untuk mencoba lebih mengerti. Walaupun akhirnya mereka berdua berpisah juga di waktu yang lain. Ya mungkin karena saat memberi nasihat, saya hanya mbeluk (sok-sokan dalam bahasa gaul Lamongan).

Seorang teman yang lain, bingung cara memutuskan hubungan dengan kekasihnya yang super protektif. Saking sumpeknya dia, sampai-sampai perjalanan saya menikmati berdesak-desakan di bis harus diganggu dengan dering telpon darinya. Bersama telinga-telinga penumpang yang main peka karena amarah sedang memuncak akibat berdesak-desakan, saya beraksi sok bijak di saat yang sama sekali tidak bijak. Masalah terpecahkan, nasib hubungannya pun terselesaikan. Telpon ditutup, saya mengangkat kepala, penumpang di sekitar menatap ke arah saya dengan pandangan sinis, dan masalah saya pun dimulai.

Seorang teman lainnya, pernah menghabiskan waktu seharian untuk menyelesaikan masalahnya. Berbagai kuliner di datangi dengan harapan bisa membantu sebagai logistik agar logika tetap jalan dengan baik. Isya sudah lewat lama, dan jam sudah begitu dekat dengan tengah malam, masalah baru terselesaikan. Hidupnya menjadi bahagia, perut pun kenyang sempurna.

Sampai kejadian yang cukup ehem, seperti seorang gay yang curhat tentang hidupnya, seorang lesbi, seorang anggota DPR di salah satu kota di Jawa Barat sampai, entah akan percaya atau tidak, seorang berkewarganegaraan Zimbabwe yang meminta berkenalan dengan saya via media sosial pun juga turut serta berbagi keluh kesah. Gelar Penasehat Tersumpah saya pun sudah bertaraf internasional. Saya pun tidak main-main dengan tanggung jawab besar akan gelar yang saya emban tersebut kawan!

...

Sebenarnya kesalahannya adalah diri saya sendiri yang cukup teledor, handphone entah sudah berapa kali hilang, dan malas mengurus nomor yang lama. Jadilah mereka tak bisa lagi menghubungi saya. Ego saya yang tidak tahu diri yang sempat saya ceritakan tadi, bukanlah doa, hanya celetukan semata. Yang doa adalah yang berikut ini, semoga hidup mereka yang pernah mempercayai saya sebagai seorang penasehat tersumpah kini baik-baik saja. Dan berkat merekalah saya sekarang bisa menapaki jejak sejauh ini. Berkat mereka pulalah saya tidak perlu berulang kali merasakan sakit putus-nyambung, cukup belajar dari yang sudah ada.

Setelah cukup lama malang melintang di dunia penasehatan, saya akhirnya mengerti, untuk menjadi seorang penasehat yang baik, jadilah pendengar yang baik. Dan syarat menjadi seorang pendengar yang baik adalah jangan mendengar untuk membalas argu

men, namun mendengar untuk mengerti masalah lawan bicara. 

Sudah purna saya menjadi saksi hidup kisah asmara anak manusia, mulai yang bingung memberi kode sampai akhirnya punya anak dan bingung cara memompa dan menyimpan asi. Namun saya ya masih begini saja, mengemban tugas lainnya yang diamanahkan Gusti Allah. Sebagai butiran koya. Sambil menatap mbak-mbak berkcamata dari jauh dan menebak ukuran jari manis yang dimilikinya.




Jumat, 07 Agustus 2015

Happy Karena Berbagi





Selepas kuliah, setelah mendapat gelar tentunya, banyak sekali kemungkinan untuk dijajaki, dan semua kemungkinan itu berkesempatan untuk diwujudkan menjadi kenyataan. Tetapi, itu bila kita tidak terjebak dengan gelar yang dimiliki. Gelar akan membatasi langkah, menyempitkan ruang untuk mengeksplorasi diri. Masa depan tidak ditentukan dari ijazah yang kita terima. Tidak melulu kita harus ada di tempat yang sama untuk melanjutkan hidup.

Banyak kemungkinan yang bisa diwujudkan, namun bukan berarti mudah mewujudkannya. Hal pertama yang menggoda kita untuk menyerah adalah apa kata orang. Sebagai makhluk sosial, setiap kita tidak mungkin untuk menjalani hidup seorang diri, kita harus bergaul dengan makhluk sosial lainnya. Sayangnya, tidak semua makhluk sosial akan bersikap sosialis, menghargai hak-hak hidup masing-masing. Sebagai mahkluk sosial, cara bersosialisasi orang-orang terkadang tidak baik, yaitu dengan membicarakan kehidupan yang lain. Kalau ada orang yang salah atau dianggap salah akan menjadi konsumsi sosialisasi yang sangat digemari, dan hal ini juga berlaku bila ada orang yang menjalani hidup dengan benar. Begitulah faktanya, tapi tak perlu banyak nelangsa bila mendengarnya atau menjadi bahan pembicaraan oleh mereka, karena percayalah, mereka yang lebih gemar membicarakan kehidupan orang lain bukan hanya membuktikan bahwa mereka hanyalah orang-orang kecil saja, tapi juga menunjukkan kalau kehidupan mereka tidak semenarik kehidupan kita. Orang-orang yang sibuk mencari tahu kehidupan orang lain hanyalah orang-orang yang hidupnya sendiri membosankan.
...

Beberapa waktu lalu saya melewati hari-hari tanpa kepastian kapan ijazah keluar. Tanpa adanya kepastian kapan ijazah keluar tak ada pula kepastian pekerjaan yang datang. Saya pun miskin pendapatan, ha...ha...ha.... Di saat seperti itu bukannya semakin giat berusaha, malah cuma satu hal yang terpikir : bikin keributan apa ya enaknya....

Semasa kuliah, banyak ide-ide proyek sosial yang hanya berhenti sampai di obrolan dengan kawan. Hal ini membuat saya merasa berhutang kepada diri sendiri, juga berhutang kepada orang-orang yang menghakimi saya omdo semata. Jadilah saya dan seorang kawan berangkat membikin keributan itu.

Kelas Inspirasi, gerakan sosial yang mengundang tenaga profesional untuk datang ke Sekolah Dasar, bercerita dan menginspirasi siswa sekolah yang dikunjungi. Kelas Inspirasi sudah diselenggarakan di lebih dari tiga puluh kota di seluruh Indonesia, dari sinilah saya berpikir untuk menggagas hal yang sama di kota kelahiran. Dan ternyata itu bukan yang pertama diselenggarakan di Lamongan, sebelumnya ada anak Lamongan lainnya yang bergerak. Hal ini baru saya ketahui setelah saya dan teman-teman mulai menjalankan keributan.

Lamongan adalah kota kecil di sebelah utara Jawa, tidak banyak hal yang bisa diceritakan dari kota ini, karena memang sebagai orang Lamongan sendiri saya tidak pernah jalan-jalan berkeliling kota. Atas kesadaran penuh bahwa saya membuat keributan ini di kota kecil, saya pun realistis saja kalau yang akan bersedia turun tangan pun jumlahnya tak banyak. Di luar dugaan saya, dalam tempo sebulan, telah terkumpul lebih dari seratus relawan. Sebagian adalah teman saya SMA, sebagian adalah orang-orang baik yang baru saya kenal yang tidak hanya berasal dari Lamongan dan sekitarnya, ada pula yang jauh-jauh dari Banyuwangi, Jogja, Semarang, dll.

Tanpa sepeserpun dibayar, tak ada protes, kecewa, duka dan nelangsa yang meliputi wajah-wajah para relawan. Dengan mengerahkan apa yang mereka miliki; harta, uang dan tenaga, mereka berdakwah dengan begitu indahnya, tanpa perlu sok pintar mengucurkan ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits. Mengunjungi pelosok-pelosok kota Lamongan yang saya haqqul yakin Bupati pun belum pernah mengunjunginya, dan anak-anak muda itu, dengan penuh semangat, meminjamkan harapan kepada bocah-bocah berseragam merah putih.

Di tiap-tiap sekolah dasar yang dikunjungi, total sepuluh sekolah dasar, para relawan berbagi kebahagiaan kepada siswa dan tenaga pengajar. Bukan hanya anak-anak saja yang bahagia, relawan pun turut mengaku bahagia tak terkira, mereka mendeklarasikan bahwa kebahagiaan pun dapat berangkat dari hal-hal sesederhana meluangkan waktu satu hari saja.

Selepas Kelas Inspirasi masih saja ada siswa-siswa yang menghubungi relawan, sekedar menanyakan kabar atau basa-basi lainnya. Pun begitu bila berjumpa dengan guru-guru sekolah yang dikunjungi, sapa ramah dan orbrolan ringan meluncur tanpa ada pembatas. Persaudaraan pun terbangun terbangun antara orang-orang Lamongan, pun antara orang Lamongan dan relawan luar kota.

Persaudaraan yang tercipta mengajarkan satu hal yang serupa diajarkan senior-senior di kampus. Kala masa mahasiswa baru tiba, para senior akan mengajarkan hukum kebersamaan yang tercipta karena susah bersama, namun sejak terjun di Kelas Inspirasi, saya belajar bahwa kebersamaan pun dapat diciptakan dengan cara lain yang lebih baik, tanpa perlu membentak-bentak, mempermalukan dan lain sebagainya. Saya belajar, kebersamaan pun dapat dicipta dari berbagi bersama-sama, tak penting seberapa besar hal yang dibagi. Kebersamaan dapat dicipta bila kita bergandeng tangan, tulus ikhlas membantu rakyat-rakyat yang selama ini tak terbantu dengan adanya penguasa. Bila ingin menolak argumen saya, ingat-ingat kembali apa yang terjadi setelah KKN yang kamu alami. 

Di sanalah kemudian, saya menemukan kemana saya akan menuju kelak. Saya selama ini tidak kunjung bisa menjadi orang kota. Saya tidak bisa seminggu berkali-kali update di media sosial perihal ibadah sosialita makan di tempat-tempat ternama, saya tidak bisa menjadi yang mula-mula menonton tiap ada film baru disiarkan, saya tidak mampu mengglorifikasikan eksistensi dengan memajang foto saya berkegiatan dengan kawan-kawan di tempat-tempat ramai, saya pun tak juga bisa berdandan baik, menjadi pengikut trend terbaru dari fashion-fashion yang ada. Saya hanyalah orang desa yang bukan apa adanya, tapi begitu adanya.

Di antara anak-anak muda yang tak melulu mengejar materi untuk menemukan bahagia, di sanalah saya menemukan diri saya sendiri. Di antara wajah-wajah orang-orang desa yang kami buat tertawa, di sanalah saya menemukan kebahagiaan saya. Di pelosok-pelosok kota yang seperti antah berantah, di sanalah saya menemukan degup detak jantung bekerja. Di antara orang-orang kecil yang merayu untuk menahan lapar atau bayar sekolah anaknya, di sanalah saya menemukan Tuhan. Di pasar yang temaram langit mengunjunginya, di sanalah saya menemukan manusia-manusia yang senantiasa membawa matahari di dadanya. Bersama orang-orang biasa, di sanalah saya merasakan kebanggaan yang lebih daripada duduk bersama orang-orang berdasi di meja-meja yang penuh makanan mewah.

Dalam sebuah tayangan video yang saya lihat, Gus Dur mengutip seorang sastrawan yang hidup sebelum Nabi Muhammad:
"Aku tak takut dan tak akan bersembunyi di dapur rumah, dan bila rakyat meminta tolong, aku akan membantunya."
...

Tak perlu ada kisah heroik, karena pahlawan hanyalah simbolis semata. Yang terpenting adalah keberanian dan ketulusan kita mewujudkan setiap kemungkinan. Masa-masa yang membingungkan karena banyak kemungkinan ini akan terlewati. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengajarkan kedewasaan, karena kedewasaan juga diukur dari pilihan yang ditetapkan.

Let's life to the fullest!


Rabu, 29 April 2015

Perjalanan Relawan

Bilakah lelah
Ambil jantungku saja
Agar kau bertenaga
Jelajahi nelangsa

Bilakah sesak
Ambil paruku saja
Agar kau merdeka
Hirup nuansa

Bilakah sepi
Ambil hatiku saja
Tak kujual kenyataan
Kuhadirkan harapan

Meski degupnya bergegas
Meski nafasnya terkuras
Namun ruang hati ini luas
Untuk hidup
Keyakinan dan perjuangan ini pantas

Puisi ini saya persembahkan kepada semua relawan. Relawan pendidikan, relawan kesehatan, relawan ekonomi, relawan HAM, relawan hukum, relawan lingkungan, dan segala jenis bentuk kerelawanan. Berkat keikhlasan relawan bumi ini tetap layak untuk ditinggali, sementara harapan yang dihadirkan perlahan mengisi sela-sela, memberi udara segar untuk bernafas.

Sabtu, 21 Maret 2015

Sembilan Puluh Hari


Wisuda sudah berlalu empat bulan yang lalu, dan saya masih menganggur. Sedih? Tidak sepenuhnya, karena sejujurnya saya lebih suka membuka usaha sendiri daripada harus bekerja kepada orang lain. Hanya saja ini sama artinya dengan saya mesti menahan cemas setiap kali menatap wajah kedua orangtua. mereka berharap saya bisa bekerja seperti orang kantoran pada umumnya. Apalagi kalau saya mau mendaftar ke pekerjaan yang sangat saya hindari: PNS.

Sampai akhir tahun kemarin ada dua pekerjaan yang menawari tanpa ribet, sayang ijazah masih belum juga mendapat bubuhan tanda tangan dari Tuan Rektor terhormat. Pertengahan januari, ijazah baru syah menjadi milik saya, dan saya bukan lagi hamba universitas.

Memasuki tahun ini, banyak yang ingin dilakukan, hebatnya keinginan kali ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berakhir menjadi wacana. Selepas menjadi sarjana banyak ide liar yang berlarian mengharap dengan wajah penuh memelas untuk ditangkap. Satu per satu ide pun berusaha diwujudkan. Beberapa ide sudah terwujud bahkan sebelum tahun berganti.

Bila kelak ada reporter yang repot-repot mewancarai teman-teman kampus untuk bertanya perihal saya di kampus. Saya jamin teman-teman akan bercerita kalau saya bukanlah tipikal mahasiswa yang betah dikampus sekaigus segan untuk memuji institusi yang bersedia memberikan saya gelar tersebut. Namun, saya pun dapat menjamin tak akan ada reporter yang mau repot-repot begitu, apa pula nilai beritanya?

...

Setelah secara formal nama saya mendapat tambahan sarjana, ada perbedaan dari cara memandang dunia. Bukan, bukan secara akademis, namun lebih luas lagi. Saya jadi sedikit lebih mengerti mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang lebih baik ditinggalkan.

Namun kiranya hal ini tidak berlaku bagi satu bagian di hidup saya : jatuh cinta. Selepas SMA tak ada lagi perihal cinta yang sanggup masuk melewati pintu hati. Beberapa hanya sanggup mengetuk, beberapa saya lah yang berusaha mengetuk pintu sekuat tenaga, berharap mendapat ijin untuk tinggal, bila tak boleh lama, barang sebentar saja, merasai jiwa berdua, menjiwai dua rasa.

Dari tahun ke tahun, kebodohan saya perihal jatuh cinta pun bertambah, kini sudah sampai taraf sepi dan keramaian tak dapat lagi dibedakan. Bilakah ada seorang di luar sana yang dengan kebaikan hatinya bersedia menulis buku "How to Fall in Love for Dummies" ?

Setelah luka yang saya cipta di masa silam, apakah semesta sedang merajut karma melalui tapak-tapak kaki yang beranjak tuk mengetuk pintu hati? Setelah penyesalan yang masih saja menghantui, patutkah semesta menuntut dendam untuk dibayar tuntas?

Mana yang cinta, mana yang rasa suka semata, mana pula obsesi kepada insan yang didamba?

Kepada gadis itu saya mengenal perumpaan paling hiperbolis yang pernah saya tahu : jatuh cinta pada pandang pertama. Memenuhi teori untuk membuktikan itu hanya suka semata, rasa ini pun saya endapkan selama sembilan puluh hari lamanya, teori itu pun termentahkan, bertepatan dengan ia yang tak lagi mengacuhkan.

Setelah melewati berbulan-bulan masa, saya pun memberanikan kembali menyapa yang disambut hangat. Sesaat. Kembali bertepatan dengan sembilan puluh hari lainnya.

Tahun pun beranjak menjadi baru, sialnya rasa ini tak kunjung berlalu. Sekali lagi sapa itu bersambut hangat, dan entah kenapa berakhir sama dengan yang lalu, juga tepat pula sembilan puluh hari yang lain.

Sering saya bertanya, rasa yang terus berkobar, tak kunjung pudar, perlukah untuk diperjuangkan barang untuk mendapat jawabnya ataukah ditinggal saja dengan menahan beban rasa yang dapat pecah kapan saja.

Jumat, 19 Desember 2014

Mengawetkan Rindu Dalam Hujan

Rindu berbilang tak terkira dan kau masih tak ada di sana, di tempat pertama kali kita menyilangkan jari kelingking. Sebuah perjalanan mengejutkan kita, bahwa aku tak sebaik prasangka. Kau tak pernah menyangka dan aku tak tahu kenapa.

Aku tak mau menjadi kaum pujangga yang merintih lemah, tak berdaya, berangan-angan memiliki kekuatan super dan jenius dapat membolak-balikkan waktu dan ruang semudah membalikkan telur mata sapi. Semoga kau tak terkejut untuk kedua kalinya, karena aku telah mendaftar ke dalam barisan satria, setelah kau beranjak dalam langkah entah ke berapa.

Sebagian dari diriku meyakinkan untuk tidak lagi memperdulikan, karena kau juga tak butuh lagi perhatian, setidaknya dariku. Sebagian lainnya ingin memastikan hidupmu baik-baik saja setelah perjalanan mengejutkan itu. Jangan sekali-kali kau bertanya motif aku melakukan ini semua, karena aku tak tahu apakah aku melakukannya karena masih menyimpan rasa atau sebuah perjalanan lainnya untuk menebus dosa.

Namun aku terlanjur menjadi satria, setiap satria harus memenuhi sumpahnya, dan sumpahku adalah untuk tidak menyerah pada cinta. Sumpahku akan terpenuhi bila kelak hidupmu bahagia bersamanya dan beriringan rasa sesal dan dosa-dosa kuharap sirna.

Dari pria-pria juara, telah kau miliki yang terbaik. Aku hanyalah kenangan, entah hilang kau buang atau utuh kau simpan. Sebaik-baik pilihanmu tak sedikitpun aku diuntungkan pada akhirnya. Tak apa, kau masih ingatkan, aku satria? Selama kau bahagia, aku akan menepuk dada.

Aku adalah satria yang mengganti wujud menjadi kenangan-lebih tepatnya kau ganti paksa. Tak apa. Akulah kenangan. Akhir darinya adalah muara, bertatap muka dengan samudra di luar sana. Akulah kenangan. Diantara cuaca berganti, aku kan kembali berganti rupa, melayang, terbang, menjadi uap. Saling sapa dengan kenangan lainnya di awan sana.

Bila rindu telah terhitung tak terkira, kau tatap awan hitam di atas, tanda bahwa segala rasa itu nyata. Aku akan segera tiba.

Saat rindu tak dapat lagi dirayu, aku kan menjumpaimu sebagai hujan. Aku akan pulang, ke tempatmu menghirup sari udara. Aku akan datang, ke peraduanmu jatuh cinta. Aku; satria; kenangan; uap; hujan, kan tetap menyapa, tak peduli kau berteduh menghindarinya di bawah payung atau tempat-tempat teduh. Aku; satria; kenangan; uap; hujan, kan tetap memanggil namamu, melalui tiap bunyi tetes hujan atau dingin yang semerbak. Hingga sumpahku terpenuhi sebagai satria.

Minggu, 30 November 2014

Gaduh Bak Vuvuzela



Seorang gadis baru saja menjejakkan kakinya di dunia perkuliahan. Tak cantik, tak juga berbadan baik, tak ideal seperti khayalan perempuan dan lelaki. Datang di sebuah jurusan yang berisi sedikit makhluk berkelamin laki-laki, tak ayal membuatnya mudah memandang lebih lelaki yang berparas baik sebagai sosok istimewa, oase di padang pasir. Jurusan yang berpenduduk lelaki sebagai minoritas memang otomatis membuat lelaki berparas baik bak sesuatu yang mewah dan langka, menjadi pujaan bagi yang mendamba serta menjadi anugerah bagi yang punya. Entah bagaimana nasibnya lelaki itu bila tak berada disana.

Gadis yang merayakan sweet seventeen-nya tahun lalu ini tertarik kepada lelaki berparas baik. Tak hanya satu, ada beberapa lelaki yang berhasil mencuri perhatiannya, menjadi semangatnya berebut parkiran motor yang kian langka setiap pagi. Kepada seorang lelaki berparas baik ia memberanikan diri menunjukkan ketertarikannya dengan membawakan bekal makan siang yang ia racik sendiri dan ia hantarkan sendiri pula. Gadis yang kedewasaannya belum matang ini melakukan suatu kecerobohan dalam menunjukkan ketertarikannya pada lelaki-lelaki itu. Ia menulis nama-nama lelaki berparas baik yang mencuri perhatiannya di sebuah media sosial, tempat dimana orang tak perlu kulo nuwun menginjakkan kaki pada privasi orang lain. Setelah sebelumnya ia tidak diterima dengan baik kala tulus membawakan bekal, sikap cerobohnya kali ini seolah menjadi legalisasi makhluk-makhluk muda kampus untuk membicarakannya. Rasa suka yang ia berani nyatakan dan ketulusan yang ia tunjukkan menjadi bahan perbincangan disela padatnya jadwal kuliah, sesekali sekumpulan makhluk semester yang lebih tua menertawakan. Kisahnya cepat menjadi lawakan, laku bak mi instan rebus dikala hujan.

...

Seorang mahasiswa humble yang doyan menghabiskan waktu bermain game bersama rekan-rekannya kini mulai meluangkan waktu untuk seorang mahasiswi berparas dan berprestasi baik. Apalah lagi alasannya kalau bukan karena cinta. Seorang meluangkan waktunya, berarti ia telah memberikan salah satu hal terpenting dalam hidupnya, karena waktu tak dapat diambil lagi. Terlebih bagi seorang gamer yang tak punya banyak waktu untuk urusan selain bermain. Entah apa yang ada di benak mahasiswi berparas baik itu, karena mahasiswa itu tak termasuk lelaki berparas baik di kampus yang berisi sedikit lelaki. Entah apa pula yang menjadi motif mahasiswa itu mencintai mahasiswi tersebut, setelah banyak dari temannya yang protes tanda tak setuju. 

Makhluk-makhluk di kampus mereka adalah salah satu contoh ironi pendidikan saat ini. Dijejali jadwal yang padat, tugas menggunung dan ujian yang berat menyebabkan mereka jarang memiliki kehidupan lain di luar rutinitas kuliah. Karenanya, bila ada hal-hal yang menarik perhatian dan layak diperbincangkan-mayoritas hal-hal buruk-akan segera menyebar luas, mampir ke mulut dan telinga yang bahkan telah tertutup sucinya kerudung. Kisah dua sejoli itu, sikap protes orang-orang terdekat mereka berdua, dan bagaimana mereka berdua menunjukkan cintanya kepada dunia adalah bumbu terbaik untuk menjadi perbincangan, mengisi sela-sela waktu kosong dan bagian otak yang tersisa. Terlebih setelah keduanya mendapat takdir buruk, jatuh dari berkendara di subuh buta. Perbincangan makhluk-makhluk kampus bak suara di peternakan lebah, gaduh bak vuvuzela di Piala Dunia Afrika. 

Andaikata, mahasiswi itu adalah makhluk perempuan yang juga humble, ekstrovert, dan sifat-sifat baik ideal lainnya, tentu perbincangan itu tak akan menjadi sebesar ini, bahkan mungkin lebih banyak yang mendukung. Dan semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Perbincangan demi perbincangan, nada-nada sumbang tak berhenti setelah celaka. Masih pula menjadi bahan tawa ketika mahasiswa itu berkeras kepala menemani kemana pun mahasiswi itu dirawat padahal dia sendiri sedang menanggung derita fisik yang lebih parah.

...

Terlepas dari kecerobohan gadis itu, lagi pula siapa diantara manusia yang tidak pernah melakukan kecerobohan, bahkan yang kedewasaannya matang sekalipun; terlepas dari cara menunjukkan cinta mahasiswa dan mahasiswi itu yang dinilai berlebihan bagi makhluk sekitarnya; terlepas dari apakah ketiga makhluk itu benar atau salah, mereka bertiga telah menunjukkan kebebasan yang menjadi barang langka di masa ini. Banyak orang terperangkap dengan citra yang sudah melekat padanya, terperangkap pada bagaimana orang menilainya, terperangkap pada aturan salah dan benar; banyak yang terperangkap, tak bebas dan akhirnya tak menjadi dirinya sendiri. Ketika musik dengan irama menghentak diperdengarkan, tak satupun dari mereka bergoyang, ketika musik mellow menyayat hati didendangkan, tak satupun menangis, mereka takut dibilang berlebihan, mereka khawatir dianggap gila, mereka tak berani menjadi berbeda, karena di lingkungan ketiga makhluk tersebut berbeda seolah hal yang hina. 

Gadis itu berani menunjukkan cintanya kepada yang mencuri perhatiannya ketika yang lain berpura-pura biasa saja dan hanya berani menjadi stalker kala jatuh cinta. Ia repot-repot membentuk perhatiannya menjadi aksi nyata ketika yang lain hanya sebatas kata-kata di media maya. Entah gadis itu tak mengerti resiko baginya yang biasa saja, asing dan entah memiliki kelebihan apa, untuk menyukai makhluk-makhluk istimewa atau memang ia telah siap dengan segala resikonya. Bila alasan kedua yang menjadikannya berani, maka tepuk tangan patut diberikan padanya. Jatuh cinta yang diungkapkan dengan baik dan tulus memang tak selalu berujung diterima dengan sama baiknya.

Kedua sejoli itu, mahasiswa dan mahasiswi, merayakan betapa indahnya kala jatuh cinta. Mereka berdua memeriahkan dengan berbagai tindakan yang kemudian dianggap tak wajar, termasuk ketika si mahasiswa merengek untuk turut serta kemanapun mahasiswi dibawa, padahal itu merupakan penebusan rasa bersalah terhadap tanggung jawab yang lalai ia jalankan. Entah para pembincang itu iri karena masih sendiri atau memang telah mendarah daging untuk bahagia membenci dan benci kepada yang berbahagia.

Terlepas dari benar atau salah ketiganya, meninggalkan kebiasaan mencampuri kehidupan manusia lainnya yang tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan diri sendiri adalah hal yang baik dilakukan. Mencari celah jadwal padat dengan membuat kehidupan lain di luar rutinitas merupakan satu bentuk cara meninggalkan kebiasaan lama.

Bila memang jiwa penonton telah menjadi identitas bagi makhluk-makhluk yang suka berbincang kabar tidak baik itu, setidaknya mereka menjadi penonton yang baik bak supporter Liverpool, meski telah lebih dari dua dekade tak juara mereka tetap setia, mengapresiasi pada kemenangan dan mengoreksi bila tertimpa kekalahan. Semua itu demi kebaikan bersama, pemain bola akan bahagia, supporter pun turut serta. Karena urip iki mung mampir ngombe, maka puaskanlah dahagamu dengan air yang menyegarkan jangan melulu meminum kopi pahit atau bahkan alkohol yang merusak badan dan jiwa.

Senin, 17 November 2014

Percakapan Di Ruang Keluarga



Dewa-dewi waktu, malam, pagi, siang dan sore, sedang menikmati masa rehat di ruang keluarga. Ruangan itu dipenuhi aroma teh poci dan melati. Mereka tak begitu suka menikmati masa rehat dengan ditemani kopi, lantaran kopi memiliki kafein yang lebih sedikit daripada teh.

Berbagai macam cerita pada masing-masing masa diperbincangkan, mulai dari kesepakatan memberi jatah hujan turun pada tiap masa, hingga perbincangan remeh mendekati tak berarti selayaknya obrolan manusia, seperti berdebat tentang jumlah pengagum sore-pemilik senja-yang kian banyak jumlahnya.

Siang yang memiliki pengagum paling sedikit, membeberkan fakta tentang pengagum sore. "Kalian tahu, mereka berburu senja hanya untuk menaikkan kasta!" ia memulai argumen dengan suara keras seperti biasa. "Kebahagian jiwa mereka bukanlah karena rasa yang tercipta kala raga menatap senja, kebahagiaan jiwa mereka hadir ketika manusia lainnya mengagumi rekaman senja mereka!"

"Sebenarnya mereka bahagia karena menikmati karya, bukan karena senja, begitu menurutmu?" tanya dewi malam yang kala itu menggulung rambut panjangnya ke atas, menyisakan pemandangan leher jenjang dan beberapa helai rambut yang terjuntai.

"Tidak semua tentunya, … kan?" sahut pagi.

Siang berdiri ke arah meja, tempat teh poci mendinginkan diri, sambil melanjutkan argumennya. "Tentu saja tidak, tapi banyak dari mereka yang berkarya tentang senja hanya untuk mendapat pujian dari manusia lainnya. Puisi misalnya, mereka merangkai kata tanpa menyertakan jiwa senja di dalamnya, yang disertakan mereka hanyalah jiwa manusia yang merasa indah serta layak dikagumi. Aku ragu pada pribadinya yang menyebut diri sendiri tukang sajak."

Dewi sore yang menjadi rujukan pembicaraan akhirnya angkat suara. "Ya, aku tahu itu. Aku mengetahui itu sudah sejak lama, dan telah lama pula aku gelisah karenanya." Ia berhenti sejenak, mengambil cangkir teh poci yang ditawarkan siang. "Peradaban manusia saat ini menjauhkan mereka dari spiritualitas. Mereka telah mulai berlari dari pemahaman kepada jiwa, kepada alam, dan kepada pencipta. Hidup mereka sekarang hanya tersisa-semoga aku salah-tentang baik dan buruk serta benar dan salah. Tuhan dari diri mereka kini adalah pengakuan manusia. Ini bak bila mendapat pengakuan baik atau benar semakin banyak, semakin alim pula manusia itu."

"Terpujilah manusia-manusia yang dengan sederhana menikmati hidup, dan tak sekalipun ia berkacak pinggang mengatakan ia menikmati hidup."

Doa dewi malam diamini ketiga saudaranya.

Rabu, 13 Agustus 2014

Tidak Ada Lagi Seandainya



Persis seperti beberapa waktu sebelum meninggalkan Bogor. Saya banyak mengorbankan waktu tidur saya untuk merenung. Keadaan saat ini memang tak seburuk kala itu, tetapi keputusan yang saya ambil sekarang akan membuktikan kepada diri saya sendiri apakah saya masih kekanakan atau sudah lebih dewasa mengambil sikap.

Rencana detail memang baru saya tuliskan setelah dosen penguji memutuskan saya lulus dan berhak menyandang gelar sarjana, namun kemana saya pergi setelah ini sudah mantap dihati. Keputusan ini tidak mudah diambil, namun tidak pula berat ... entah kenapa, keputusan kali ini tidak membuat saya setakut ketika memutuskan meninggalkan Bogor, namun mulai muncul antusias yang serupa.

Tidak butuh waktu lama untuk menentukan pilihan kemana langkah selanjutnya dipijakkan. Semuanya seolah reflek dari pengalaman perjalanan selama ini. Saya hanya perlu menggunakan jemari tangan untuk menghitung prioritas mana yang perlu didahulukan. Setelah menghela nafas, sayapun rela mimpi saya ditunda untuk sementara waktu. Mimpi saya berjumpa dengan realitas, dari perjumpaan itu lahirlah kompromi yang bernama realitas.

...

Pindah ke Surabaya adalah salah satu kisah saya perihal memanjakan ego terlampau sangat....

Jejeran tas besar berderet di depan warung nasi pecel stasiun Babat, menunggu Bapak menjemput subuh kala itu. Wajahnya jelas menyirat kecewa, kerutannya bertanya, "mengapa anaknya menyerah secepat itu?".

Beberapa bulan di rumah tanpa kegiatan yang berarti membuat Ibu khawatir. Pada dasarnya Ibu memang suka khawatir terhadap berbagai hal yang sebenarnya baik-baik saja. Tak ingin kekhawatiran itu berlarut-larut, saya mengunjungi teman-teman di kota-kota besar. Bercengkerama dengan kehidupan kampus demi menjaga semangat tak padam, memelihara rasa ingin kembali ke dunia civitas akademika.

Ibu bertanya apakah saya yakin memilih farmasi ketika pengumuman menampilkan nama saya disana. Saya pun menjawab tanpa ragu, bercampur sedikit sesal, bangga serta haru. Perjalanan sunyi akhirnya usai.

Bila bertanya kepada teman-teman saya di fakultas ini, mungkin akan dapat jawaban yang hampir sama, ada rasa sesal saya pindah ke tempat ini. Jujur, saya tidak menyukai lingkungannya. Dan saya akui, memang saya gagal beradaptasi dengan baik. Bisa sampai di titik ini adalah satu perjuangan yang pahit-setidaknya dari sudut pandang saya-yang panjang. Ini adalah sisi kekanakan saya.

Meskipun pahit, tidak semua perjalanan kelam. Saya berterimakasih karena pindah ke Surabaya, membuat keadaan rumah jauh lebih baik. Entah apa jadinya bila saya menetap lama di Bogor.

...

Perjalanan selanjutnya adalah tentang belajar tidak ada seandainya. Berandai-andai adalah pekerjaan yang membuang waktu, karena setiap kata andai berada di luar kuasa manusia.

Kedewasaan tidak akan memberi ruang pada seandainya. Hanya akan ada pilihan dan resiko yang tidak dapat dipilih salah satu, karena mereka selalu datang berurutan.

Dengan tangan terbuka, saya akan menyambut resiko serupa saya antusias memilih perjalanan selanjutnya. Tidak akan ada lagi penyesalan yang menyesatkan.

Bye....


Rabu, 06 Agustus 2014

Lekang Oleh Waktu



Surabaya, 18 Juli 2009

“Wan, kapan kamu nikah?”

“Nanti to, Pak. Awan masih belum siap kalau sekarang.”

“Nanti, nanti, nanti! Nanti kok terus, keburu Bapak ini ndak bisa lihat nikahanmu, Le ….”

“Hush, Bapak kok ngomong gitu …. Iya, iya, Awan janji nikah, secepatnya.”

Sudah setahun ini Bapak selalu menanyakan jodohku. Dan akhir-akhir ini Bapak ngebet minta aku buru-buru nikah. Aku masih belum siap kalau sekarang, walaupun hidupku sudah mapan tapi aku masih menunggu kekasihku yang sedang mengejar gelar S2-nya di Prancis.

Tahun ini adalah tahun ke 5 hubungan kami. Waktu yang cukup panjang untuk mengerti satu sama lain. Aku masih menunggunya, dan ia disana masih mempercayaiku menjadi cintanya. Dulu waktu mau pergi ke Prancis, aku berjanji akan melamarnya saat ia pulang membawa gelar nanti.

“Kamu masih nunggu dia, si siapa itu … Tanti?” Aku mengangguk. “Eleng nak, eling kamu itu siapa, la si Tanti itu sudah anak orang kaya, kuliah S2 di Prancis lagi, kamu itu ndak satu derajat sama dia.” Aku sudah sering dengar omongan Bapak yang seperti ini, aku sudah kebal, coba kalau dulu, aku pasti sudah marah.

“Kita berdua kan saling cinta, Pak ….”

“Halah, sok pujangga kamu. Kalau kamu mau nyari perempuan lagi, nanti juga bakal cinta.”

Perdebatan seperti ini memang selalu dimenangkan Bapak. Mati-matian membela Tanti juga nggak akan merubah penilaian bapak kepadanya selama ini.

Sejak pertama kali mengenalkan Tanti kepada keluarga, Bapak sudah menunjukkan gelagat kalau ia nggak suka dengan kekasihku. Awalnya Bapak bilang nggak suka karena pakaian Tanti yang menurut Bapak nggak sopan, alasan lainnya pun bersambut, karena nggak sederajatlah, kita berdua nggak cocoklah, yang paling bapak nggak suka adalah perilakuku berubah sejak mengenal Tanti. Sebenarnya Bapak terlalu berlebihan menilai Tanti, berlebihan mencari keburukannya. Tanti tak pernah mempermasalahkan status keluargaku, kita berdua selama ini juga merasa cocok-cocok saja. Kenapa perilakuku berubah pun bukanlah karena Tanti, tapi karena aku memang ingin bergaul lebih luas lagi, sebagai anak muda aku ingin menjalani kehidupan seperti lainnya.

Sebenarnya Bapak bukanlah sosok yang memandang orang dari segi materi, ia orangnya realistis, baginya hubunganku dengan Tanti adalah hubungan yang nggak realistis, karena itu Bapak nggak suka, Bapak khawatir anaknya nanti malah sakit hati.

Bapak memang hanya seorang penjahit di kampung, penghasilannya berlimpah hanya saat-saat mendekati hari lebaran atau saat hari kemerdekaan. Sementara ibu buka warung kecil-kecilan di depan rumah, jual makanan juga segala keperluan rumah tangga sehari-hari. Dari hasil kerja keras mereka akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Walaupun hanya D3, tapi aku sangat bersyukur bisa kuliah ditengah ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Ibu bilang aku boleh kuliah lagi kalau mau, masih ada tabungan di Bank. Aku berterimakasih atas kebaikan orangtuaku, tapi aku menolaknya dengan halus, lebih baik uang itu untuk biaya adikku kuliah nanti. Aku lebih memilih bekerja untuk menambah ekonomi keluarga serta menabung untuk pernikahanku nanti.



Malang, 1 Januari 2008. 00.37 WIB

“Sebentar lagi kita nggak bisa kayak gini lagi, ya ….” tangan Tanti menggenggam erat kedua tanganku, jemarinya menyapu punggung tanganku.

Aku menyunggingkan senyum padanya, kutarik perlahan tangannya kearahku, sekarang ia dalam pelukan. Ia tengadahkan wajahnya, butir-butir airmata yang meleleh lebih dari cukup untuk menunjukkan besar rasa sayangnya padaku.

“Keciiil …,” begitu panggilan kesayanganku untuknya. “Cinta nggak harus selalu bersama. Walaupun dipisahkan jarak, kita masih bisa berbagi kasih sayang, kan? Cinta itu lebih besar daripada jarak yang memisahkan kita nanti.”

Tanti memandang wajahku dengan serius, seolah ia ingin mencari sebuah jawaban dari keraguannya. Ia mengangguk. Aku kecup keningnya.

“Aku takut ….” Ia kembali memandang wajahku, “Aku takut aku egois dan nggak sanggup jaga hubungan kita.”

“Kecil …, aku sebenarnya juga khawatir nggak sanggup nunggu kamu. Tapi aku yakin cinta kita lebih kuat daripada ketakutan kita. Pemilik cintanya juga pasti kuat.”

Tanti tersenyum, manis sekali. “Makasih ya, sayang, kamu udah percaya banget sama aku.” Ia kecup pipiku. “Semoga sejauh apapun kita terpisah, cinta akan selalu menemukan jalan pulang ke rumah untuk kembali bertemu.” Aku tersenyum dan mengangguk penuh setuju.

Sebuah pelukan hangat untuk malam yang dingin dari dua sejoli yang takut akan akhir kisah cintanya kelak.

Malam ini, aku, Tanti dan enam orang teman lainnya merayakan tahun baru di Villa salah seorang teman. Teman-teman berkumpul dibelakang sedang asyik memasak, sementara aku dan Tanti memilih untuk menyendiri sebentar, menikmati malam romantis di balkon lantai atas. Kebersamaan yang mungkin tak akan kita dapatkan lagi sampai beberapa tahun yang akan datang.

Ia memintaku menggambar sketsa wajahnya. Wajahnya yang cantik pun menjadi buruk rupa disketsaku, aku memang nggak jago gambar, dan itu adalah hasil terbaik yang bisa kuusahakan. Tanti yang memang jago gambar membuat sketsanya tampak mirip aslinya, rasanya lebih ganteng gambarnya daripada aslinya.

Saat melihat hasil kerjaanku, Tanti tertawa terpingkal-pingkal sambil mencubiti lenganku. Ia protes kenapa aku menggambar nenek sihir padahal menurut Tanti, dirinya adalah putri salju. Di bawah gambar yang kubuat, aku tulis, “Belajar yang rajin, dan akan pulang dengan gelar S2 untuk dilamar.” Ia tertawa membacanya. Tanti merebut gambar yang aku pegang, ia lalu menuliskan beberapa kata. Diberikannya kembali padaku, “Menunggu, dan kerja keras mencari uang untuk melamar putri salju.” Kita berdua tertawa sembari memandangi gambar yang dipegang masing-masing.

“Woooi! Pacaran mulu, waktunya makan sekarang. Nih, udah pada matang.” Anton meneriaki kami.

“Iyaa! Kita turun ….” Aku balas teriak lebih kencang.

Malam ini, dibawah langit kota Malang, kita berdua meyakini akhir indah dari sebuah kisah cinta.


Surabaya, 8 Agustus 2008
Aku tergesa-gesa mengejar waktu. Tanti akan pergi ke Prancis hari ini, aku harus mengantarnya, walaupun itu berarti harus bertemu dengan keluarganya.

Sama dengan Bapak, keluarga Tanti juga nggak menyukaiku. Bedanya, keluarga Tanti memandangku seolah seperti parasit yang mengejar Tanti karena harta. Setelah tahu siapa keluargaku mereka lebih memandang remeh. Sudah sejak lama aku mencoba meyakinkan keluarga Tanti bahwa aku nggak punya niatan apapun, ini murni cinta. Tapi seperti bagaimana Tanti ingin membuktikan kepada Bapak, usahaku pun sia-sia.

Saat melihatku, ia berteriak memanggil namaku. Tanti lari ke arahku dan memelukku erat. Air matanya meleleh. Aku ingin memeluknya erat dan nggak akan kubiarkan ia pergi, sepertinya Tanti juga menginginkan hal yang sama, ia memelukku lebih erat.

Sambil terisak ia berbisik padaku, “Jarak sejauh apapun, nggak bakal ngebuat kita jauh … karena jarak bukanlah ukuran untuk mendapatkan yang terbaik.” Ia mengendurkan pelukannya, didekapnya kedua tanganku, ia memandangku penuh kesungguhan, “Yang buat jarak itu jauh sebenarnya kita sendiri, yang buat hubungan jarak jauh itu berat sebenarnya karena hati kita terlalu kecil untuk menopangnya.”

Aku segera menambahkan, “Hati kita nggak diragukan lagi besarnya.”

Ia peluk lagi, lebih erat dari sebelumnya. Tanti berbisik ditelingaku, “Aku cinta kamu ….”

“Aku juga cinta kamu.”

Kita berdua tak mempedulikan keluarganya yang sedari tadi melihat. Apalah mau dikata, bila cinta, dunia memang terasa hanya milik berdua.

Akhirnya Tanti pergi mengejar cita-citanya. Aku hanya bisa melihat pesawat yang ia tumpangi semakin menjauh. Fase cerita cinta baru pun dimulai. LDR, hubungan jarak jauh, apapun namanya aku yakin kita berdua pasti sanggup melewatinya.



Paris, 2 Juni 2009.

Huaaah, aku ngelewatin kesempatan jadi yang pertama buat ngucapin ke kamu, maaf banget ya, Sayang. Ini juga aku baru bangun. Tadi aku telepon juga nggak kamu angkat, udah tidur ya? Dasar tukang tidur, hehe …. Sebagai gantinya, aku tulis ini buat kamu. Malam ini aku ingat masalah-masalah kita, dan aku jadi pengen nyoba nulis sesuatu.

Api dan air, contoh paling sederhana untuk menganalogikan dua hal yang berbeda dan berlawanan. Air itu sumber kehidupan, sementara api itu sumber kehancuran, setan juga terbuat dari api.  Untuk memadamkan api, digunakan air. Api sering kali meniadakan air, merubahnya menjadi uap. Mereka nggak akan pernah bisa jadi satu. Lalu bagaimana bila mereka ternyata saling mencintai? Aku kemarin berpikir begitu. Lalu aku coba nulis cerita untuk kamu.


Seandainya api dan air itu makhluk yang hidup, apa yang akan terjadi?. Anggap saja api itu berjenis kelamin laki-laki, air itu perempuan.

Air dan api tidak mungkin bisa bersatu, tapi ada dari kedua kaum itu yang saling jatuh cinta. Firo berasal dari negeri api, dan Aqua berasal dari negeri air. Cinta mereka, cinta yang suci. Sialnya, cinta itu tidak direstui orang tua dan teman masing-masing. Orangtua dan teman Firo tidak suka dengan Aqua, karena selama ini air sudah membuat kaum api lainnya mati. Orang tua dan teman air tidak suka karena dimata negara air, api derajatnya lebih rendah, api adalah sumber kehancuran, sementara air memiliki derajat yang lebih tinggi dari api, sebagai sumber kehidupan.

Semakin mereka menjalani hubungan itu semakin banyak yang menentangnya. Firo tetap yakin bahwa Aqua adalah belahan jiwa yang ia cari selama ini, begitu juga Aqua, ia meyakini hal yang sama. Mereka berdua tetap yakin, segala sesuatu yang terjadi selalu ada dalam kuasa dan sepengetahuan Tuhan, bahkan sebelum ini terjadi Tuhan pasti sudah tahu. Dan karena tercipta cinta diantara mereka berdua, berarti Tuhan telah mengijinkan mereka saling mencintai. Terpikir diantara keduanya, lalu mengapa mereka tidak meminta ijin saja kepada Tuhan untuk dipersatukan?

Suatu hari, Aqua dan Firo sedang berjalan-jalan. Dari awal mereka jatuh cinta sampai saat ini, mereka belum pernah bersentuhan. Saat itu Firo ingin sekali memegang tangan indah Aqua, rasa ingin itu sudah tidak bisa lagi ditahan. Ia lalu memegang tangan Aqua tanpa meminta ijin, seketika Aqua menjerit karena kesakitan, beberapa jemari Aqua menguap. Melihat Aqua menangis, Firo panik, ia berusaha menenangkan Aqua. Lalu, ia meminta Aqua untuk memegang tangannya juga, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Saat dipegang, Firo menjerit sangat keras, beberapa jemarinya pun hilang. Akhirnya mereka berdua sadar kalau keduanya memang mungkin untuk hidup bersama tapi tidak akan pernah bisa bersatu, karena bila saling menyentuh mereka saling meyakiti.

Firo dan Aqua tetap saling mencintai tanpa peduli dengan kenyataan yang menyedihkan. Mereka memutuskan untuk menikah walaupun tidak satupun orang yang menyukai pernikahan tersebut. Bahkan semua penduduk dari kedua negara menentang pernikahan mereka. Firo dan Aqua hidup seatap, namun sampai mati mereka tidak pernah saling bersentuhan kembali. Mereka tidak pernah bersatu secara harfiah, tapi cinta mereka, menyatu dan suci.

Cinta butuh keberanian. Firo dan Aqua telah berani untuk tetap menjalani hubungan ini dengan segala akibat untuk ditanggung.



Sayang, kita berbeda. Aku dari keluarga berada, kamu keluarga yang sederhana. Segala perbedaan yang ada membawa jarak yang memisahkan kita. Jarak jugalah yang benar-benar memisahkan kita berdua saat ini. Aku disini, kamu disana.

Sampai sekarang aku nggak pernah memandang harta adalah status yang patut dibanggakan. Aku masih ingat katamu dulu, “Orang kaya dan orang miskin itu sama aja sih sebenarnya, orang kaya sebenarnya orang miskin dengan uang, lalu orang miskin yang biasa disebut orang-orang itu ya orang miskin tanpa uang. Karena sesungguhnya harta kita itu hanya titipan Tuhan.” Aku setuju dengan kata-katamu. Tapi sayangnya orang tuaku memandangmu dari harta, mereka benar-benar matrealistis. Aku kira yang seperti itu cuma ada di sinetron-sinetron, ternyata dalam kehidupan ini benar-benar terjadi, dalam keluargaku sendiri malah.

Orang tua yang tidak merestui, ditambah lagi jarak tempat tinggal kita sekarang, kadang membuat aku ragu, bukan ragu ke kamu, tapi ragu ke diriku sendiri, apa aku sanggup jalanin hubungan ini?

Jujur, sering aku pengen banget menyerah, tapi setiap ingat waktu dulu kita berpisah, yang aku spontan ngomong ke kamu, “… jarak sejauh apapun nggak bakal ngebuat kita jauh, karena jarak bukanlah ukuran untuk mendapatkan yang terbaik. Yang buat jarak itu jauh sebenarnya kita sendiri, yang buat hubungan jarak jauh itu berat sebenarnya karena hati kita terlalu kecil untuk menopangnya ….”

Saat itu aku takut banget, aku takut nggak sanggup, aku takut sakit, aku takut ninggalin kamu, aku takut kalau aku berpaling dari kamu, aku juga takut hal sebaliknya. Sekarang, setelah hampir setahun kita berpisah, aku mengerti bahwa kita sanggup menjalani hubungan walaupun diatas berjuta-juta keraguan yang hadir tiap kali komunikasi kita nggak lancar.
Saat ini kita sudah nggak bisa dengan mudah lagi ketemu, entah kapan kita akan bertemu, aku kuliah disini, kamu disana.
Orang tua yang nggak suka dan jarak yang memisahkan. Kombinasi yang rumit, ngebuat aku benar-benar sedih dengan keadaan ini, tapi sungguh beruntung aku punya kamu, selalu bisa buat aku tenang, buat aku bahagia. Kamu jugalah alasanku kenapa aku tetap kuat jalani ini semua. Tapi, satu hal yang ingin aku tanyakan, dengan semua perbedaan ini, apakah kita bisa bersatu? Ataukah kita selamanya akan seperti Firo dan Aqua dalam ceritaku?

Sayang, yang aku tahu, cinta antara aku dan kamu itu atas sepengetahuan Tuhan, dan dengan ijin Tuhan.

Sayang,
Aku tak mengerti kapan esok hari tiba
Aku tak memahami bagaimana langit mengubah raut wajahnya
Aku tak sanggup mengartikan keikhlasan angin berhembus
Tapi aku mengerti dan memahami kapan bahagiaku tiba:
Ketika kau peduli padaku, cinta
Ketika kau ada untukku, cinta
Dan ketika kita saling bertukar kata
Aku cinta padamu kasih

Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu tambah dewasa, semakin bijak dalam bertindak. Jadi lebih baik dalam segala hal, ya ….

Makasih udah mau nemenin aku selama ini.

Aku cinta kamu.


Surabaya, 2 Juni 2009.

Setiap kata yang ia tulis dalam email itu menggetarkan hatiku. Beruntung aku memilikinya, perempuan yang tak pernah menyerah menghadapai segala rintangan, mampu menguatkan saat lemah, meyakinkan ketika ragu, dan membahagiakan kala sedih. Entah bagaimana hidupku bila tanpanya, dan bila dulu aku tak mengenalnya mungkin hidupku tak akan seindah ini.

Aku balas emailnya, penuh cinta serta rindu yang menggebu mengharapkan temu.


Surabaya, 18 November 2009.

“Le …, kamu masih nunggu Tanti pulang?”

Aku hanya menjawab dengan anggukan. Aku bosan dengan pertanyaan semacam ini. Kenapa orangtuaku tak mau sekalipun mengerti kesungguhan hubunganku dengan Tanti. Setiap pertanyaan mereka bagiku adalah sebuah keraguan, ujung-ujungnya menyangkal kalau aku dengan Tanti itu cocok.

“Kamu yakin dia masih suka kamu?” pertanyaan ibu kali ini membuatku mulai hilang kesabaran.

“Bu …! Apa ibu ndak tahu setiap akhir minggu atau kalau kita berdua ada waktu luang telepon-teleponan. Nadaku agak meninggi.

“Ibu tahu, Le …. Tapi masalahnya bukan itu, Tanti itu kuliah S2 disana ….”

“Lalu aku cuma anak D3? Apa sih Bu masalahnya lulusan D3 nikah dengan lulusan S2?” aku memotong pembicaraan ibu.

Ibu beranjak dari kursinya, ia mendekat duduk disebelahku sekarang.

“Dengar ibu selesai ngomong dulu to ….” Ibu menepuk-nepuk pundak kananku. “Ibu juga pernah ditinggal Bapakmu merantau selama 4 tahun lebih, ndak ada kabar sama sekali. Sekali ibu dapat kabar, Bapak ndak ngasih alamatnya tinggal, Ibu ndak bisa balas kabarnya. Sebelum ada surat itu, Ibu kira bapakmu sudah kawin lagi dan yang paling Ibu takutkan Bapakmu meninggal. Sejak bapakmu ndak ngasih kabar, ada saja lelaki yang berusaha mendekati ibu. Alhamdulillah, Le …, Ibu masih ingat sama pernikahan. Cobaan perempuan jauh dari laki-laki yang ia cintai itu sangat berat lho, Le. Yang sudah nikah saja sering gagal. Apalagi yang belum nikah …, Ibu takut kamu sakit hati nantinya.”

Aku mengerti maksud ibu. Tapi ibu tak perlu khawatir karena aku dan Tanti lebih kuat dari setan manapun yang berusaha memutus hubungan ini.

Kuletakkan kepala di bahu ibu, “Bu …, tenang saja, aku sama Tanti itu udah sama-sama dewasa, sama-sama ngerti, Ibu ndak usah khawatir lagi ya.” Aku mencoba meyakinkan ibu.

Ibu tersenyum, “Iya, Le …. Ibu ngomong gitu juga ndak maksud yang buruk, cuma mau ngasih tahu kamu.”

“Iya, Bu …, Awan ngerti.”


Surabaya, 5 April 2010.

Rindu itu seperti balon, waktu adalah udara yang ditiupkan kedalamnya, dan jarak adalah tali yang mengikat balon itu. Semakin lama waktu memisahkan semakin besar balonnya, semakin jauh jarak memisahkan dua manusia maka tali yang mengikat pun semakin kencang. Aku rasa balon yang aku miliki sekarang sudah sebesar Airbus.
Akhir-akhir ini susah sekali menghubungi Tanti bahkan diakhir pekan sekalipun. Sekalinya bisa dihubungi ia hanya bisa ngobrol sebentar. Rasa rindu ini pun merengek-rengek ingin bertemu.

Akhirnya teleponku diangkat.

“Halo sayang, gimana kabarnya minggu ini? Susah banget hubungin kamu.”

Hallo, who is this?” bukan Tanti yang menjawab telponnya, tapi suara laki-laki yang sama sekali nggak aku kenali.

Ada suara yang berbeda bicara ditelpon, “Hallo ….”

“Kecil, ini aku. Itu tadi siapa?” pertanyaanku menudingkan curiga.

“Ohh …, kamu sayang. Emh … yang tadi …, oh … itu temen, kok. Temen lagi main ke apartemen.” Nada bicaranya gelagapa, membuatku penasaran. Ah, masa bodohlah siapapun tadi, aku hanya ingin bicara dengan Tanti, sudah seminggu lebih rindu ini ingin diletuskan.

Nggak terasa sudah satu jam lebih aku ngobrol dengan Tanti, tumben bisa selama ini. Masa bodohlah dompet jebol, yang penting aku bisa mendengar calon perempuan yang aku lamar nanti.

“Sayang, maaf ya, aku akhir-akhir ini sibuk banget.”

“Iya, nggak pa-pa, kok ….” Dalam hati kecewa juga sebenarnya.

“Mulai sekarang aku juga kayaknya bakal lebih sibuk, deh. Banyak penelitian yang harus aku lakuin, belum juga buat jurnal dan banyak tugas-tugas lainnya.”

“Iya … iya, aku ngerti, kok. Duh, yang udah mau selesai kuliahnya. Udah siap dilamar belum?”

“Hehe … makasih ya kamu mau ngerti aku. Sayang, udah dulu ya? Ini masih banyak yang perlu aku kerjain.”


“Iya, Kecil, sama-sama. Semangat ngerjainnya, semoga sukses. I love you….”
“I love you too….”

Aku semakin yakin bahwa Tanti adalah pilihan yang tepat.


Surabaya, 29 Agustus 2010. 19.17 WIB
Loh ini mobil siapa, ya? Kok aku belum pernah lihat. Masa bapak beli mobil baru? Ah, nggak mungkin, duit dari mana coba. Itu dari dalam rumah kok kayaknya ada rame-rame, ada rame-rame apa, ya?

“Assalamu ‘alaikum ….”

Serentak suara dari ruang tamu menjawab, “Wa alaikum salam ….”

“Nah, ini dia calonnya udah datang. Wan, sini, sini, duduk sini.” Bapak memanggilku.

Bapak ngomong apa sih? Calon? Calon apa maksudnya. Saat aku memandang seluruh isi ruang tamu, pandanganku berhenti pada seorang perempuan di dekat bapak. Masih muda, manis dan sesuai kriteria Bapak. Jangan-jangan Bapak ….

Aku duduk di sebelah Bapak. Pikiranku masih dipenuhi tanda tanya, aku berharap secepatnya ada yang memberi penjelasan padaku.

Bapak angkat bicara, “Jadi gini, Le …, temen Ibumu ini, Bu Rina punya anak perempuan yang cantik ini.” Bapak menunjuk kearah perempuan yang menyita perhatianku dari tadi. “Namanya Fatma, kenalan dulu dong.” Kesimpulanku mulai mengerucut.

Aku mengulurkan tangan yang segera Fatma sambut. Aku mengucapkan namaku, ia mengucapkan namanya, suaranya lembut, merdu rasanya di telinga. Ah, aku nggak boleh kebawa gini, kan udah ada Tanti.

Bapak melanjutkan pembicaraannya, “Dan Bu Rina ini ingin anaknya segera menikah.” Ya, aku sudah bisa menebak sekarang, ini perjodohan kan maksudnya? “Keluarga Bu Rina kesini ingin menjodohkan Fatma dengan kamu. Kamu bersedia, Le …?” Benar, ini perjodohan!

Aku tersenyum kikuk, bingung bagaimana harus memutuskannya, iya atau nggak. Kalau aku memilih iya, sama saja aku meninggalkan Tanti begitu saja yang sudah enam tahun menjalin cinta denganku, nggak mungkin aku melakukannya, aku sangat mencintainya. Kalau nggak mau pasti akan membuat malu bapak dan ibu, ditambah mereka berdua sudah ngebet ingin aku segera menikah, mereka pasti marah karena aku melewatkan begitu saja kesempatan menikah.

“Maaf, bapak ibu semuanya, bukan saya menolak keinginan bapak ibu, tapi saya belum mengenal Fatma dengan baik dan menikah juga bukan keputusan yang mudah. Jadi saya meminta waktu untuk memutuskan jawabannya.”

“Mau waktu sampai kapan? Sampai si Tanti itu lulus?” Bapak terlihat nggak suka dengan ucapanku.

Aku melanjutkan kembali ucapanku tanpa memperdulikan ucapan bapak. “Jadi begini, saya belum kenal Fatma, begitu juga dengan Fatma, dia belum kenal saya. Mungkin saja ada ketidak-cocokkan diantara kita …,” Melihat banyak orang diruangan ini menatapku dengan pandangan nggak suka, aku cepat-cepat melanjutkan kalimatku, “Tapi, ndak menutup kemungkinan juga kita berdua ini cocok. Biar kita lakukan pendekatan dulu, itu maksud saya.” Wajah-wajah orang di ruangan ini kembali tenang.

“Ya sudah, ndak pa-pa kok, Mas Awan. Silahkan melakukan pendekatan biar tambah cocok, soalnya ibu ngeliatnya kalian berdua memang cocok, kok. Ya?” Ibu Fatma menanyakan ke semua orang diruangan ini, dan yang lain pun menyahuti setuju.

Paris, 25 September 2010.

-tulisan blog-
Tulislah kisah yang kamu inginkan sebagai akhir dari kisah cintamu. Tapi tunggu, apakah kamu sudah menyelipkan doa disetiap tinta yang kamu goreskan? Aku khawatir kamu lupa mengucapkan doa. Saranku, lebih baik kamu hapus lagi tulisan tentang kisah ini, tulis kisah cinta yang baru, yang tak membeku.
Setiap detik adalah persimpangan, sebagai kekasih yang diliputi keraguan, mungkin saja aku memilih jalan yang berbeda denganmu. Setiap detik adalah persimpangan, sebagai kekasih yang rindu akan kebersamaan, mungkin saja aku lebih memilih mengikuti orang yang mengerti jalan daripada membuka peta yang kau berikan.
Cinta akan selalu tahu jalan pulang sejauh apapun jarak harus ditempuh. Tapi bagaimana bila ia menemukan rumah baru, rumah yang lebih nyaman untuk ditinggali? Cinta akan selalu mengenali rumah sebanyak apapun waktu memisahkan. Tapi bagaimana bila rumah itu sudah berubah, lain lagi ceritanya.
Apakah tetap bisa dikatakan cinta bila manusia tak lagi setia? Apa salah bila tak setia karena semua yang pernah dibicarakan telah luntur semua maknanya? Sekuat apapun sebuah hubungan cinta, bila ia berbeda, tak lagi sama, sekuat apapun semesta, ia tak akan sanggup walau sedetik saja untuk menunda berpisah.


Surabaya, 26 September 2010.

Aku nggak pernah sungguh-sungguh melakukan pendekatan dengan Fatma. Aku nggak pernah berniat untuk mengerti ia. Semua yang aku lakukan kepadanya hanyalah formalitas belaka di depan kedua orang tua. Fatma telah mendengar banyak sekali ceritaku tentang Tanti, tapi tak sekalipun ia menunjukkan sikap tak suka, ia tetap tenang mendengarkanku setiap kali bicara tentang Tanti, terkadang sesekali ia memberiku saran.

“Fat, sebenarnya alasan kamu melakukan perjodohan ini apa? Di luar sana pasti banyak lelaki yang jauh lebih baik dan lebih mapan dariku yang suka kamu …,”

Fatma memotong ucapanku, “Aku melakukannya untuk orangtuaku, Mas. Untuk kasih sayang mereka.”

Aku terdiam mendengar ketulusan hati Fatma. Suasana hening sesaat.

“Tapi, apa kamu menyukaiku?” pertanyaan ini terucap begitu saja dari mulutku.

“Mas, apa kalau cinta itu harus diucapkan? Mulut itu ringan sekali bicara, ndak sekalipun ia ingat bahwa waktu bisa dengan mudah menghapus kata yang pernah diucap. Lagipula, apa perhatian dan semua ini ndak cukup untuk membuat Mas mengerti?” Raut wajahnya menunjukkan kesedihan, Fatma lalu masuk ke dalam rumah.

Aku menyesal telah membuka pembicaraan tadi. Aku terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang ia ucapkan terakhir kali tadi.


Hatiku panas ketika membaca tulisan di blog Tanti semalam. Kalau ada masalah dengan hubungan ini kenapa nggak dibicarakan saja. Kalau memang ada yang nggak ia sukai seharusnya nggak seperti ini. Ini nggak seperti biasanya Tanti.

HP-ku berdering. Tanti!

“Halo, maaf aku nelpon kamu jam segini. Besok aku pulang ke Indonesia, tapi nggak bisa mampir ke Surabaya, maaf. Aku dua minggu di rumah. Apa kamu bisa ke Tangerang?” bicaranya tanpa jeda, seolah nggak ada waktu untuk bicara. Tanpa basa-basi juga, ini seperti bukan kebiasaan Tanti.

Eh, apa yang ia bilang tadi? Pulang? Aah … akhirnya aku akan bertemu juga dengan cinta yang lama nggak bertemu, akhirnya balon ini akan pecah juga. Tapi rasa senang ini nggak mampu menutupi kecurigaanku kepada blog miliknya.

“Kamu pulang? Haha,… akhirnya rindu ini nggak akan lagi merengek ke kamu, Kecil. Iya, iya, aku bisa kok ke Tangerang, jangankan ke Tangerang, nyusul ke Prancis sekarang juga aku berangkat, hehe ….”

“Hehe … makasih, ya.” nada bicaranya terdengar canggung.

“Eh, sayang, tulisan di blog itu apa maksudnya?” pertanyaan ini dari awal telepon ingin sekali aku tanyakan.

“Oh, itu …, entar aja ya kita obrolin kalau udah ketemu. Maaf ini aku lagi sibuk, udah dulu, ya ….”

“Tuut…tuut…tuut….” Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, telepon sudah mati duluan, sepertinya ia benar-benar sibuk.


Tangerang, 1 Oktober 2010.

Harusnya sebuah pelukan hangat menyambut kekasih yang sudah lama tak bertemu. Namun ketika akan ku peluk, Tanti seolah enggan, ia menghindar. Ada apa ini? Apa ia bercanda?

Kita berdua duduk berhadapan di sebuah kafe dekat rumahnya.

“Aku mesti ngomong sesuatu ke kamu, tapi kamu janji nggak akan marah .”

Aku jadi bingung dengan ucapannya yang tiba-tiba seperti ini. “Loh, kok aku marah, kenapa memangnya?”

“Janji dulu nggak akan marah!”

“Bawel ah, iya, iya … aku janji.” Dua jemariku mengacung keatas.

Hening sesaat

“Ini juga tentang tulisanku di blog. Kamu ngerasa nggak kita berdua udah nggak kayak dulu?”

“Loh, maksud kamu apa, Kecil? Aku nggak ngerti.” Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.

“Ya..., aku ... kamu,” kata Tanti dengan nada suara pelan, sambil mengarahkan telunjuknya ke arahku, “udah bener-bener berbeda daripada pertama kali pacaran.”

“Loh, kok bisa? Maksud kamu gimana?

Tanti menjelaskan semuanya yang ia rasakan selama ini kepadaku, bagaimana rasanya kesepian, nggak ada kekasih yang memanjakannya, susah banget setia saat banyak lelaki yang mengatakan serta menunjukkan cinta kepadanya. Hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang cocok, yang lebih baik daripada aku. Ia orang yang mengangkat telpon waktu itu.

“Masalahnya bukan karena harta atau status kamu …,” Ia menyangkal pernyataanku yang meremehkannya seperti halnya Bapak. “Masalahnya itu kamu nggak ada di sana, kamu nggak ada saat aku butuhin, aku nggak nyalahin kamu, tapi aku nggak bisa hidup kayak gini terus, aku nggak bisa setia sama long distance relationship.”

Setiap kata yang ia ucapkan adalah satu pedang yang menusuk hati. Entah sudah berapa ratus kata yang ia ucapkan padaku, perihnya tak menyisakan sedetikpun untuk sejenak merasa nyaman.

“Lalu kenapa baru bilang sekarang?!” aku mulai tak bisa mengendalikan emosi.

Air matanya mulai meleleh. Ah, ternyata wanita juga ada yang buaya!

“Itu karena kamu terlalu percaya sama aku, kamu terlalu percaya sama hubungan ini, kamu terlalu percaya kepada akhir bahagia cerita kita, aku nggak tega buat ngehancurin rasa percaya kamu.”

“Kalau memang nggak mau hancurin rasa percayaku, harusnya kamu itu nggak nyari cowok lain!!” kata-kataku mulai menjadi bentak.

Ia kini menangis. “Maafkan aku, Wan. Aku nggak bermaksud seperti ini ….” ia mencoba meraih tanganku namun aku meghindar.

Aaarggh …! Kenapa harus berakhir seperti ini? Bukankah dulu aku dan ia berjanji untuk mencintai sampai mati? Bodoh! Itu kan hanya bualan anak-anak. Aaarrghh …! Manusia memang adalah raja dan ratu bagi janjinya masing-masing. Benar kata Fatma, mulut itu ringan sekali bicara, nggak sekalipun ia ingat bahwa waktu bisa dengan mudah menghapus kata yang pernah diucap.

Kita berdua saling terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Berat hati aku mengucapkan kata-kata terakhir sebelum meninggalkan Tanti untuk selamanya. Aku berusaha mengatakannya dengan suara tenang, berharap ia sadar bahwa aku memang benar-benar mencintainya, lebih dari yang ia tahu. Sesakit apapun aku saat ini, bagaimanapun juga ia adalah orang yang aku cintai.

“Tan,” Ia mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk, matanya sembab. “makasih udah ngajarin aku tentang sebuah kesalahan dari penantian panjang yang penuh dengan keyakinan.” Aku genggam tangannya, “Tan, makasih udah mencintaiku, makasih juga udah buat aku bahagia. Seandainya aku nggak pernah kenal kamu, seandainya aku dan kamu nggak menjalin hubungan, hidupku pasti nggak sebahagia seperti sekarang. Terimakasih, Tan.” Kupaksakan wajahku tersenyum untuknya.

“Wan, maaf aku nggak pernah bisa memberikan yang terbaik buat kamu …, aku selalu ngecewain kamu.”

Aku beranjak dari tempat dudukku dan menghampirinya. “Kamu sudah memberikan lebih dari cukup, Tan ….” Aku kecup keningnya untuk yang terakhir kalinya. “Selamat tinggal Tan ….”


Surabaya, 10 November 2010.

Aku marah kepada diriku sendiri karena selama ini telah menyia-nyiakan banyak sekali waktu hanya untuk perempuan yang lebih memilih menjalani kisahnya dengan orang asing daripada dengan lelaki yang telah sangat ia kenal dan berjuang mati-matian memperjuangkan cintanya.

Ah, sudahlah, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Bagaimanapun juga ia tak akan pernah bisa dirubah, lagipula masa lalu telah mengajarkan banyak hal penting untuk menjalani kisah hidup selanjutnya.

Sekarang aku sudah berhasil mempraktekkan cara move on terampuh, yaitu mencari seseorang yang baru. Seseorang yang sanggup mengobati luka, menyegarkan hati yang kering kerontang, mampu membahagiakan hati yang sedih. Semua hal itu aku temukan dalam diri Fatma.

Kali ini aku nggak akan mencintainya dalam angan-angan kebahagiaan masa depan. Aku akan mencintainya hari ini, tanpa menjanjikan apa-apa kecuali yang diinginkan Tuhan. Percaya kepada cinta itu lebih penting daripada percaya kepada kebahagiaan yang belum tentu datang, karena tak selamanya cinta itu bahagia. Aku akan menjaga cinta ini bagaimanapun kisahnya nanti, aku tak akan membiarkan cinta ini terpisah oleh jarak, aku juga tak akan membiarkan cinta ini berjarak.

Kali ini keyakinan hati ini nggak hanya datang dari aku saja, tapi juga dari Fatma.

“Pak, Bu …, sudah siap jadi mertua belum?” pertanyaanku disambut gelak tawa mereka berdua.