Kamis, 14 November 2013
Sabtu, 19 Oktober 2013
Aku Anak Desa
Ketika aku tertawa
Kepada segala hal yang katamu
Aku tak 'kan bahagia
Kamu bilang aku berubah
Lalu aku harus bagaimana?
Tetap sinis dengan hidup?
Ketika aku mulai berjalan
Tanpa risau orang lain berkata apa
Kamu bilang aku rendah
Lalu aku harus bagaimana?
Menyiram hidup dengan keluh?
Ketika aku mulai menjadi diri sendiri
Persis seperti yang kamu tuturkan
Kamu bilang aku tak punya prinsip
Lalu aku harus bagaimana?
Menggadaikan jati diri?
Aku ini apa
Hanya anak desa
Yang tinggal di kota
Untuk sementara
Aku ini anak desa
Bila saatnya tiba
Aku akan pulang
Dengan sendirinya
Kepada sawah,
Sungai,
Langit biru,
Dan segala hal
Yang tak kamu punya,
Aku hanya anak desa
Sebanyak apapun kamu ajarkan
Selama apapun kamu pedulikan
Percuma
Aku hanya anak desa
Yang sok tahu tentang dunia
Minggu, 29 September 2013
Sebuah Kesalahan
Ini hati yang kamu bilang melukaimu,
Iya, ini hati itu
Ini hati yang kamu bilang melupakanmu,
Iya, ini hati itu
Ini hati yang kamu bilang menerbangkan harapanmu,
Iya, ini hati itu
Hanya, ada rahasia di balik hati ini
Rosa menuliskan catatan untuk dirinya sendiri yang akhirnya rebah, menyerah pada lelah.
Mudah bosan atau cepat bosan, begitulah aku menjalani sebuah kedekatan. Tak mudah bagiku merasa nyaman dalam sebuah kedekatan. tak susah bagiku memuaskan keinginan perasaan.
Ketertarikan adalah awal kedekatan yang ternyata hanya ingin yang dibesar-besarkan. Aku mudah sekali menemukan rasa tak nyaman, pada hal-hal kecil di dirimu yang kurasa ganjil. Mudah sekali aku mendapati rasa tak nyaman, pada kisah hidupmu yang tak sedikitpun menyulut kehidupanku.
Ini bukan pembelaan apalagi pembenaran. Kuakui sebuah kesalahan. Diriku tak bisa kendalikan keinginan. Memenuhinya dengan dalih inilah yang diinginkan perasaan. Nyatanya setelah berjalan, satu-satunya adalah meninggalkan.
Ini bukan pembelaan apalagi pembenaran. Kuakui sebuah kesalaha. kan kujalani penebusan. Karena sejujurnya pada hatiku juga tercipta sayatan, buah dari kelakuan.
Kepada hidupmu, aku tak lagi perlu berperan. Karena dengan lainnya kuyakini kamu akan lebih mudah menemukan kebahagiaan. Bawa pulang harapan yang kamu bawa gantungkan, karea yang kamu letakkan padaku, hanya akan berbalas kesia-siaan.
Maafkan. Ini sebuah kesalahan.
Tapi, padamu yang tawanya membuat hariku ringan. Sekalipun aku tak bosan. Bahkan pada acuhmu, aku masih bertahan.
Selasa, 24 September 2013
Menjauh Beberapa Hasta
Apakah telah ada kepastian,
bahwa hatimu memilihku?
Ataukah telah ada kepastian,
bahwa aku sungguh menyayangimu?
Kita saling menjauh,
mengambil jarak beberapa hasta
Hanya karena rasa
yang belum kita pastikan
Sungguh,
semestinya lebih baik hati didera luka
Mendengar kata tidak terucap
atau kenyataan menjawab
kita tak bisa lebih dekat dari ini
Sungguh,
berdiam diri menyimpan rasa adalah derita
Karena rasa penasaran setelahnya
menyuburkan tanya
Tanpa kepastian,
usaha terjauh yang kita lakukan
hanya menerka-menerka isi hati
memutuskan tuk simpulkan sendiri
apa yang kita yakini benar adanya
Seharusnya sederhana,
kita hanya perlu meluangkan waktu berdua
Mempertemukan dua mata dengan dua mata lainnya
agar saling bicara
Aku bertanya, dan kamu menjawabnya
Lalu kita menjalani hidup
berdua atau sendiri-sendiri
Tanpa perlu saling memunggungi
seperti waktu tadi
Sabtu, 21 September 2013
Berlayar Lebih Jauh
Ada
kemudian yang sering kamu lupakan
Ada
lusa yang kamu biarkan tanpa asa
Ada
kemarin yang tak membiarkanmu yakin
Ada
masa lalu yang membuatmu kehilangan banyak waktu
Kamu
hanya perlu memilih
Terjebak
seorang diri,
Atau
berlari bersama
Kamu
hanya perlu memutuskan,
Berhenti
tanpa pernah pergi,
Atau
merentangkan layar,
Tuk
berlayar lebih jauh
Satu Buket Cinta
![]() |
| pegangi aku erat, nona |
Babak I
Bila kamu masih sibuk
dengan gengsi dan egomu, aku akan mulai belajar mencintai yang lain.
Bila kamu masih sibuk
meragu, aku akan merelakan keyakinanku.
Bila kamu masih sibuk
menarik-ulur rasa, aku akan lepas begitu saja.
Jemari lentik Nisa
mengelus dinding gelas berisi kopi yang sudah dingin. Matanya
menjelajah halaman kafe yang basah diguyur hujan sejak sejam lalu.
Hujan deras kini menyisakan gerimis, tetesan air gemulai meluncur di
kaca jendela.
Nisa sedang gelisah
menunggu kekasihnya. Tidak hanya sekali ini Nisa melewati waktu
sendirian hanya untuk mendapati kekasihnya datang mengucap maaf
dengan wajah memelas. Sudah ratusan alasan, yang sebagian sama dari
waktu ke waktu, diucapkan kekasihnya.
Nisa tiba di kafe ini
pukul delapan lebih lima belas menit, sekarang jarum pendek jam
dinding di dekatnya menunjuk angka sepuluh. Kuku jarinya mengetuk
meja berulang kali, memberi irama untuk mempertanyakan kapan
kesabarannya usai.
Tepat ketika kesabarannya
tinggal segaris, sebuah mobil merah memasuki halaman kafe.
Pengemudinya bergegas masuk, sesampainya di dalam matanya menjelajah
untuk mencari seorang wanita. Setelah matanya menemukan yang dicari,
ia kemudian menghampiri wanita yang sedari tadi menunggunya.
“Maaf sayang, aku tadi
harus balik dulu ke rumah ... .” belum selesai lelaki itu bicara,
Nisa berdiri, tangannya sibuk membuka dompet dan mengeluarkan
selembar uang seratus ribuan. Ia letakkan uang itu di atas meja.
“Kali ini aku yang
traktir.” Kata Nisa, kemudian ia berlalu meninggalkan kafe meski
gerimis masih jatuh menyamarkan pipinya yang dialiri tangis.
...
Perasaan yang telah
melangkah jauh dari awal tempat rasa tumbuh, mungkin membutuhkan
sebuah tamparan untuk mengembalikan logika agar tetap berpijak erat
di tanah.
Harapan karena diri
sendiri yang membesarkan rasa tidaklah baik untuk dijadikan pegangan
setiap waktu.
Langkah-langkah menuju
ia harus segera berhenti secepatnya, sebelum kecewa tumbuh membesar
dibalik harapan.
Telah menjadi rahasia
umum bahwa kecewa tumbuh beriringan dengan membesarnya harap.
Tinggal masalah waktu
siapa yang menjadi juara.
Tiga kata yang berdiam di
layar kaca handphone mengurungnya dalam kamar semalaman. Rasa ingin
tahu yang sebagian besar didorong oleh rindu membuatnya gelisah tak
menentu. Tiga kata itu tak kunjung berangkat.
Ia membuka jejak-jejak
percakapannya dengan seorang perempuan yang sudah lebih dari dua
belas minggu ini ia suka. Beberapa pesan membuatnya tersenyum,
pipinya bersemu. Dan pada pesan yang lain membuatnya terpaksa
menggigit bibir bawahnya. Pesan-pesan tersebut membuatnya meragu
untuk menebak perasaan sebenarnya perempuan itu.
Tiga kata itu masih di
sana, menemaninya menimang-nimang rasa. Mereka ulang dalam pikiran
apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Di sana ia melihat
perempuan tersebut sedang asyik bercanda dengan seorang lelaki dalam
sebuah toko buku kecil dekat kampus. Ia hanya melihat sebentar, lalu
segera meninggalkan toko tersebut karena tak kuasa menahan cemburu.
Kali ini rasa ingin
tahunya didorong oleh cemburu. Ia memenuhi rasa itu dengan mencari
informasi tentang mereka berdua. Yang ia dapatkan dalam pencariannya
adalah kecewa.
Tepat saat memori
memutarkan hal itu di kepala, ia menekan tombol penghapus, mengusir
setiap huruf dalam rangkaian kata yang tak kunjung berangkat.
Perempuan itu mengajarkan
padanya tidak semua kebaikan pada lawan jenis ada karena cinta. Akan
sangat mengerikan bila di masa ini orang-orang berbuat baik hanya
bila menginginkan cinta.
Perasaannya urung
dilanjutkan, ia tak mau mendapatkan kecewa yang lebih besar, kemudian
menyalahkan sikap perempuan tersebut padanya selama ini. Jatuh cinta
satu sisi pernah membuatnya bahagia, walaupun berbingkai kecewa, tapi
setapak perjalanannya bersama perempuan itu perlu disempurnakan
dengan rasa terimakasih.
Ia melepas kecewa dengan
rebah dan lelap, menuju teduhnya mimpi-mimpi.
...
Langit sore terlukis
jingga
Langit pagi menguning
serupa emas
Langit siang biru
semarak awan putih
Mendung membuyarkan
Menukar dengan hitam
Satu warna langit
menuju warna lainnya
Tanpa penjelasan
Bisakah kamu bertingkah
seperti itu?
Berhenti bertanya
mengapa
Nikmati saja
Bagaimana aku
mencintaimu
Apapun warna langit
Aku tetap mencintaimu
Percayalah
Lagi-lagi suaminya
mengatakan kekurangan rasa masakannya, itu berarti ia harus merelakan
suaminya sarapan di luar rumah. Melepaskan kesempatan duduk satu meja
di pagi hari adalah sebuah kebodohan besar. Ia menyesali masa mudanya
yang hanya dihabiskan untuk menikmati berbagai kuliner tanpa pernah
serius mencoba untuk belajar memasak.
Wanita itu adalah anak
terakhir dari empat bersaudara. Persis seperti citra anak terakhir
lainnya, ia begitu dimanja, semua serba ada untuknya, bahkan sampai
ia tumbuh dewasa makan masih saja disuapi. Hal ini seringkali menjadi
olok-olok saudara lainnya, tapi ia tak pernah pedulikan. Ia hanya
membalas dengan mengatakan bahwa saudaranya iri dengan perhatian
orangtuanya.
Keputusannya untuk tidak
mempekerjakan pembantu adalah sebuah keputusan nekat dan paling
berani yang pernah ia lakukan. Alasannya sederhana tapi mempesona, ia
ingin mencintai suaminya dengan sepenuh hati dan raga.
Saat memutuskan hal itu,
ia sadar betul tidak memiliki kemampuan memasak. Mencuci dan
menyetrika adalah hal asing baginya. Dan membersihkan rumah adalah
kegiatan yang paling enggan ia lakukan. Kini, ia harus melakukan
semua itu.
Hanya sekali ia menyesali
keputusannya itu, yaitu ketika selama tujuh hari tak sekalipun ia
berhasil membuat masakan yang enak dimakan. Bahkan mie instan pun ia
masak terlalu matang. Ia menangis, merasa melakukan kesalahan besar
kepada suaminya.
Saat itu suaminya
memberikan pelukan dan berbisik, “Bagaimanapun rasa masakanmu, aku
akan berusaha menghabiskannya.”
Sejak saat itu wanita itu
belajar memasak lebih giat lagi, meski sampai saat ini masih sedikit
masakannya yang mampu membuat lidah suaminya merasakan nikmat.
Terkadang, kala suaminya bersedia menghabiskan masakannya yang kurang
enak, ia tidak tega. Karena cinta saling menjaga, ia melindungi lidah
suaminya untuk merasakan kurang enak masakannya, ia menyarankan untuk
membeli di luar rumah saja. Alasannya karena ia khawatir, setelah
menghabiskan masakannya yang tidak enak, suaminya malas
berterimakasih memiliki istri seperti dirinya.
Kata kerja keras bukanlah
padanan tepat untuk menggambarkan usaha wanita itu menjadi istri yang
baik. Ia telah melakukan banyak hal hanya untuk menemukan resep yang
pas membuat nasi goreng. Ia rela menghabiskan berjam-jam di dapur
untuk membuat masakan yang belum tentu rasanya.
Ia begitu menghargai dan
menyayangi suaminya, begitu juga sebaliknya. Wajar bila lelaki dan
perempuan seperti itu, karena cinta itu saling. Mereka berdua
menyadari dengan baik, bahagia adalah perjalanan hidup, karenanya apa
yang dimiliki kini sudah lebih dari cukup.
Remah Remah Roti
Mungkin, saya memang telah
menjadi bagian dari generasi social media. Saya sudah terpengaruh
trend “bahagia itu sederhana”.
Saya mengartikan kalimat
tersebut adalah sebuah pelajaran agar kita mensyukuri hal-hal kecil.
Dan sungguh bersyukurlah
kamu, bila memang kamu mudah sekali bahagia, bukan menjadi bagian
orang-orang yang kebahagiaannya mahal serta syarat dengan ego.
Seperti halnya saya sangat
bersyukur dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang saya temukan pada
hal-hal yang seringkali dianggao remeh temeh. Seperti bahagia hanya
dengan berlama-lama menggigit ujung kuncup daun bambu. Atau bahagia
karena bisa menemukan orang batuk di selembar uang seribu. Ataupun
bahagia karena bisa melakukan trik-trik sulap membalik koin. Dan
hal-hal kecil lainnya, termasuk menulis hal sederhana seperti ini.
Semoga, saya dan kamu,
dijauhkan dari pengetahuan bahwa membenci adalah salah satu jalan
untuk bahagia.
Semoga, kebahagiaan saya
dan kamu tidak ditentukan dari apa yang orang lain bagi di social
media.
Saya, mungkin sudah
terlanjur menjadi generasi social media, berkata-kata tanpa berusaha
menyaring dan menimang-nimang terlebih dahulu kelayakan hal-hal yang
akan dibagi. Tetapi, saya tetap bisa memilih menjadi generasi social
media yang positif atau yang hanya sekedar menulis diary di ruang
publik.
...
Merasa tersaingi itu
perlu.
Yang percuma, merasa
tersaingi tanpa ada kontrol hati dan emosi. Sehabis merasa tersaingi
kemudian terlalu banyak peduli dengan karya orang lain, lantas
membenci dengan merendahkan dan mengecilkan karya tersebut.
Merasa lebih baik, itu
tidak baik. Karena baik tidaknya sebuah karya adalah relatif. Dan
manusia bukanlah juri yang adil dalam menilai.
Merasa lebih baik itu
baik, selama tidak ada keinginan merendahkan dan mengecilkan orang
lain.










