Selasa, 24 September 2013
Menjauh Beberapa Hasta
Apakah telah ada kepastian,
bahwa hatimu memilihku?
Ataukah telah ada kepastian,
bahwa aku sungguh menyayangimu?
Kita saling menjauh,
mengambil jarak beberapa hasta
Hanya karena rasa
yang belum kita pastikan
Sungguh,
semestinya lebih baik hati didera luka
Mendengar kata tidak terucap
atau kenyataan menjawab
kita tak bisa lebih dekat dari ini
Sungguh,
berdiam diri menyimpan rasa adalah derita
Karena rasa penasaran setelahnya
menyuburkan tanya
Tanpa kepastian,
usaha terjauh yang kita lakukan
hanya menerka-menerka isi hati
memutuskan tuk simpulkan sendiri
apa yang kita yakini benar adanya
Seharusnya sederhana,
kita hanya perlu meluangkan waktu berdua
Mempertemukan dua mata dengan dua mata lainnya
agar saling bicara
Aku bertanya, dan kamu menjawabnya
Lalu kita menjalani hidup
berdua atau sendiri-sendiri
Tanpa perlu saling memunggungi
seperti waktu tadi
Sabtu, 21 September 2013
Berlayar Lebih Jauh
Ada
kemudian yang sering kamu lupakan
Ada
lusa yang kamu biarkan tanpa asa
Ada
kemarin yang tak membiarkanmu yakin
Ada
masa lalu yang membuatmu kehilangan banyak waktu
Kamu
hanya perlu memilih
Terjebak
seorang diri,
Atau
berlari bersama
Kamu
hanya perlu memutuskan,
Berhenti
tanpa pernah pergi,
Atau
merentangkan layar,
Tuk
berlayar lebih jauh
Satu Buket Cinta
![]() |
| pegangi aku erat, nona |
Babak I
Bila kamu masih sibuk
dengan gengsi dan egomu, aku akan mulai belajar mencintai yang lain.
Bila kamu masih sibuk
meragu, aku akan merelakan keyakinanku.
Bila kamu masih sibuk
menarik-ulur rasa, aku akan lepas begitu saja.
Jemari lentik Nisa
mengelus dinding gelas berisi kopi yang sudah dingin. Matanya
menjelajah halaman kafe yang basah diguyur hujan sejak sejam lalu.
Hujan deras kini menyisakan gerimis, tetesan air gemulai meluncur di
kaca jendela.
Nisa sedang gelisah
menunggu kekasihnya. Tidak hanya sekali ini Nisa melewati waktu
sendirian hanya untuk mendapati kekasihnya datang mengucap maaf
dengan wajah memelas. Sudah ratusan alasan, yang sebagian sama dari
waktu ke waktu, diucapkan kekasihnya.
Nisa tiba di kafe ini
pukul delapan lebih lima belas menit, sekarang jarum pendek jam
dinding di dekatnya menunjuk angka sepuluh. Kuku jarinya mengetuk
meja berulang kali, memberi irama untuk mempertanyakan kapan
kesabarannya usai.
Tepat ketika kesabarannya
tinggal segaris, sebuah mobil merah memasuki halaman kafe.
Pengemudinya bergegas masuk, sesampainya di dalam matanya menjelajah
untuk mencari seorang wanita. Setelah matanya menemukan yang dicari,
ia kemudian menghampiri wanita yang sedari tadi menunggunya.
“Maaf sayang, aku tadi
harus balik dulu ke rumah ... .” belum selesai lelaki itu bicara,
Nisa berdiri, tangannya sibuk membuka dompet dan mengeluarkan
selembar uang seratus ribuan. Ia letakkan uang itu di atas meja.
“Kali ini aku yang
traktir.” Kata Nisa, kemudian ia berlalu meninggalkan kafe meski
gerimis masih jatuh menyamarkan pipinya yang dialiri tangis.
...
Perasaan yang telah
melangkah jauh dari awal tempat rasa tumbuh, mungkin membutuhkan
sebuah tamparan untuk mengembalikan logika agar tetap berpijak erat
di tanah.
Harapan karena diri
sendiri yang membesarkan rasa tidaklah baik untuk dijadikan pegangan
setiap waktu.
Langkah-langkah menuju
ia harus segera berhenti secepatnya, sebelum kecewa tumbuh membesar
dibalik harapan.
Telah menjadi rahasia
umum bahwa kecewa tumbuh beriringan dengan membesarnya harap.
Tinggal masalah waktu
siapa yang menjadi juara.
Tiga kata yang berdiam di
layar kaca handphone mengurungnya dalam kamar semalaman. Rasa ingin
tahu yang sebagian besar didorong oleh rindu membuatnya gelisah tak
menentu. Tiga kata itu tak kunjung berangkat.
Ia membuka jejak-jejak
percakapannya dengan seorang perempuan yang sudah lebih dari dua
belas minggu ini ia suka. Beberapa pesan membuatnya tersenyum,
pipinya bersemu. Dan pada pesan yang lain membuatnya terpaksa
menggigit bibir bawahnya. Pesan-pesan tersebut membuatnya meragu
untuk menebak perasaan sebenarnya perempuan itu.
Tiga kata itu masih di
sana, menemaninya menimang-nimang rasa. Mereka ulang dalam pikiran
apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Di sana ia melihat
perempuan tersebut sedang asyik bercanda dengan seorang lelaki dalam
sebuah toko buku kecil dekat kampus. Ia hanya melihat sebentar, lalu
segera meninggalkan toko tersebut karena tak kuasa menahan cemburu.
Kali ini rasa ingin
tahunya didorong oleh cemburu. Ia memenuhi rasa itu dengan mencari
informasi tentang mereka berdua. Yang ia dapatkan dalam pencariannya
adalah kecewa.
Tepat saat memori
memutarkan hal itu di kepala, ia menekan tombol penghapus, mengusir
setiap huruf dalam rangkaian kata yang tak kunjung berangkat.
Perempuan itu mengajarkan
padanya tidak semua kebaikan pada lawan jenis ada karena cinta. Akan
sangat mengerikan bila di masa ini orang-orang berbuat baik hanya
bila menginginkan cinta.
Perasaannya urung
dilanjutkan, ia tak mau mendapatkan kecewa yang lebih besar, kemudian
menyalahkan sikap perempuan tersebut padanya selama ini. Jatuh cinta
satu sisi pernah membuatnya bahagia, walaupun berbingkai kecewa, tapi
setapak perjalanannya bersama perempuan itu perlu disempurnakan
dengan rasa terimakasih.
Ia melepas kecewa dengan
rebah dan lelap, menuju teduhnya mimpi-mimpi.
...
Langit sore terlukis
jingga
Langit pagi menguning
serupa emas
Langit siang biru
semarak awan putih
Mendung membuyarkan
Menukar dengan hitam
Satu warna langit
menuju warna lainnya
Tanpa penjelasan
Bisakah kamu bertingkah
seperti itu?
Berhenti bertanya
mengapa
Nikmati saja
Bagaimana aku
mencintaimu
Apapun warna langit
Aku tetap mencintaimu
Percayalah
Lagi-lagi suaminya
mengatakan kekurangan rasa masakannya, itu berarti ia harus merelakan
suaminya sarapan di luar rumah. Melepaskan kesempatan duduk satu meja
di pagi hari adalah sebuah kebodohan besar. Ia menyesali masa mudanya
yang hanya dihabiskan untuk menikmati berbagai kuliner tanpa pernah
serius mencoba untuk belajar memasak.
Wanita itu adalah anak
terakhir dari empat bersaudara. Persis seperti citra anak terakhir
lainnya, ia begitu dimanja, semua serba ada untuknya, bahkan sampai
ia tumbuh dewasa makan masih saja disuapi. Hal ini seringkali menjadi
olok-olok saudara lainnya, tapi ia tak pernah pedulikan. Ia hanya
membalas dengan mengatakan bahwa saudaranya iri dengan perhatian
orangtuanya.
Keputusannya untuk tidak
mempekerjakan pembantu adalah sebuah keputusan nekat dan paling
berani yang pernah ia lakukan. Alasannya sederhana tapi mempesona, ia
ingin mencintai suaminya dengan sepenuh hati dan raga.
Saat memutuskan hal itu,
ia sadar betul tidak memiliki kemampuan memasak. Mencuci dan
menyetrika adalah hal asing baginya. Dan membersihkan rumah adalah
kegiatan yang paling enggan ia lakukan. Kini, ia harus melakukan
semua itu.
Hanya sekali ia menyesali
keputusannya itu, yaitu ketika selama tujuh hari tak sekalipun ia
berhasil membuat masakan yang enak dimakan. Bahkan mie instan pun ia
masak terlalu matang. Ia menangis, merasa melakukan kesalahan besar
kepada suaminya.
Saat itu suaminya
memberikan pelukan dan berbisik, “Bagaimanapun rasa masakanmu, aku
akan berusaha menghabiskannya.”
Sejak saat itu wanita itu
belajar memasak lebih giat lagi, meski sampai saat ini masih sedikit
masakannya yang mampu membuat lidah suaminya merasakan nikmat.
Terkadang, kala suaminya bersedia menghabiskan masakannya yang kurang
enak, ia tidak tega. Karena cinta saling menjaga, ia melindungi lidah
suaminya untuk merasakan kurang enak masakannya, ia menyarankan untuk
membeli di luar rumah saja. Alasannya karena ia khawatir, setelah
menghabiskan masakannya yang tidak enak, suaminya malas
berterimakasih memiliki istri seperti dirinya.
Kata kerja keras bukanlah
padanan tepat untuk menggambarkan usaha wanita itu menjadi istri yang
baik. Ia telah melakukan banyak hal hanya untuk menemukan resep yang
pas membuat nasi goreng. Ia rela menghabiskan berjam-jam di dapur
untuk membuat masakan yang belum tentu rasanya.
Ia begitu menghargai dan
menyayangi suaminya, begitu juga sebaliknya. Wajar bila lelaki dan
perempuan seperti itu, karena cinta itu saling. Mereka berdua
menyadari dengan baik, bahagia adalah perjalanan hidup, karenanya apa
yang dimiliki kini sudah lebih dari cukup.
Remah Remah Roti
Mungkin, saya memang telah
menjadi bagian dari generasi social media. Saya sudah terpengaruh
trend “bahagia itu sederhana”.
Saya mengartikan kalimat
tersebut adalah sebuah pelajaran agar kita mensyukuri hal-hal kecil.
Dan sungguh bersyukurlah
kamu, bila memang kamu mudah sekali bahagia, bukan menjadi bagian
orang-orang yang kebahagiaannya mahal serta syarat dengan ego.
Seperti halnya saya sangat
bersyukur dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang saya temukan pada
hal-hal yang seringkali dianggao remeh temeh. Seperti bahagia hanya
dengan berlama-lama menggigit ujung kuncup daun bambu. Atau bahagia
karena bisa menemukan orang batuk di selembar uang seribu. Ataupun
bahagia karena bisa melakukan trik-trik sulap membalik koin. Dan
hal-hal kecil lainnya, termasuk menulis hal sederhana seperti ini.
Semoga, saya dan kamu,
dijauhkan dari pengetahuan bahwa membenci adalah salah satu jalan
untuk bahagia.
Semoga, kebahagiaan saya
dan kamu tidak ditentukan dari apa yang orang lain bagi di social
media.
Saya, mungkin sudah
terlanjur menjadi generasi social media, berkata-kata tanpa berusaha
menyaring dan menimang-nimang terlebih dahulu kelayakan hal-hal yang
akan dibagi. Tetapi, saya tetap bisa memilih menjadi generasi social
media yang positif atau yang hanya sekedar menulis diary di ruang
publik.
...
Merasa tersaingi itu
perlu.
Yang percuma, merasa
tersaingi tanpa ada kontrol hati dan emosi. Sehabis merasa tersaingi
kemudian terlalu banyak peduli dengan karya orang lain, lantas
membenci dengan merendahkan dan mengecilkan karya tersebut.
Merasa lebih baik, itu
tidak baik. Karena baik tidaknya sebuah karya adalah relatif. Dan
manusia bukanlah juri yang adil dalam menilai.
Merasa lebih baik itu
baik, selama tidak ada keinginan merendahkan dan mengecilkan orang
lain.
Perjalanan Fiksi Hati
Juli, 2010
Masa lalu yang kelam
membuatku sebisa mungkin menutup diri, bahkan bila itu hanya untuk
diintip orang lain. Sejak aku tahu rasa sakit dapat berdampak luar
biasa merubah kehidupan, langkahku pun menjejak perlahan, sebisa
mungkin tak bersuara, karena meinggalkan jejak adalah hal yang aku
takutkan ketika melangkah.
...
Desember, 2010.
Sebuah aroma yang dihirup
hidungmu, membawamu melintasi dimensi waktu menuju masa lalu.
Bebunyian yang terdengar
telingamu menyanyikan lagu nostalgia.
Rasa yang dikecap lidahmu,
menari-nari bersama gambaran kenangan antara kamu dan mereka yang
menemanimu.
Pemandangan yang dilihat
mata mengingatkanmu ketika kamu berdiam pada sebuah rasa.
...
April, 2011.
Aku terlalu sibuk dengan
gengsi dan ego sampai dengan bodohnya melewatkan ketertarikan dan
perhatianmu.
...
Mei, 2011.
Sebuah kepergian
menghentikanku untuk memercayakan hati ini padamu.
Sekian lama waktu berlalu
tak kunjung menebalkan kepercayaanku bahwa kamu kan kembali.
...
Januari, 2012.
Delapan januari menuju
sembilan januari aku sedang dalam perjalanan pulang. Berangkat sedari
matahari berteduh dan sampai ketika ia terbit kembali.
Aku sampai di rumah
bersama matahari yang meninggi. Di alamat yang sama aku menemui
banyak hal yang berbeda. Cat yang mewarnai rumah ini bukan lagi warna
pastel kesukaanmu. Bunga di taman telah berganti famili
euphorbiaceae. Pagar yang melindungi rumah kini hanya setinggi
pundakku. Dulu untuk mengintip ke dalam rumah saja aku harus memanjat
pagar setinggi dua meter.
Awalnya aku mengira rumah
ini telah di renovasi selama aku pergi, jadi aku putuskan saja untuk
masuk. Di dalam tak kutemui satupun perabotan mewah yang gemar kamu
kumpulkan. Perabotan berhias kemilau, memancarkan harga yang mahal
namun rapuh, sekali tersenggol pecah sudah. Isi rumah ini telah
diganti dengan perabotan berbahan kayu, dicat sewarna alam. Teduh,
membuat nyaman siapa saja yang masuk. Berlama-lama di rumah ini pun
kurasa tak akan bosan, yang ada kantukku segera disulut, kemudian
hanya sisa lelap dariku.
Aku pulang, menempuh
perjalanan lebih dari enam ratus kilometer, untuk menjumpai rumah
penuh rindu.
Aku telah pulang, sampai
di alamat yang sama. Tetapi aku pulang tidak lagi kepadamu, rumah
yang menjagaku hidup namun sesak tuk bernafas. Aku pulang ke alamat
yang sama, namun kepada rumah yang jauh lebih nyaman.
Aku memutuskan untuk
memilih menetap pada rumah yang dipenuhi ingin mengetahui kabar
dariku, meninggalkan rumah yang dipenuhi oleh ego pemiliknya.
...
September, 2013
Hidup Memang Layak
Mereka tak pernah memintamu
hidup berbahagia atau penuh sia-sia, mereka tak peduli. Tetapi, apa
kamu bersedia membiarkan mereka menderita hanya karena kamu takut
menantang luka?
Saya mengenal mbak Kartika
Dewi ketika saat masih menjadi maba di UNAIR. Dia adalah pengajar
muda golongan pertama dari gerakan inspiratif yang sudah banyak
dikenal, yaitu Indonesia Mengajar. Ketika itu ia menjadi pembicara di
acara yang kami buat dengan tajuk ke-Indonesiaan. Ia sedang cuti
tugas mengajar kala itu.
Dulu ia satu almamater
dengan saya, sampai akhirnya menjabat posisi tinggi di sebuah
perusahaan besar Singapura. Setiap akhir pekan ia sering melakukan
perjalanan ke luar Singapura menuju Australia, Thailand, India, dan
berbagai negara lainnya yang bisa dihabiskan untuk liburan dalam
beberapa hari. Ia bebas melakukan apa saja yang ia mau karena dalam
posisi yang ia jabat, uang yang didapat sudah pasti jauh lebih dari
cukup. Bila dihitung dari segi materi, mbak Kartika Dewi sudah bisa
dibilang melampaui kesuksesan.
Dengan bermacam
pencapaian, mbak Kartika Dewi pernah merasakan pesimis kepada
negaranya sendiri, negara yang telah membesarkannya hingga mampu
meraup dollar di negeri tetangga. Ia sulit menemukan hal positif
tentang Indonesia, hal itu perlahan berubah menjadi benci, sampai ia
sempat terbersit untuk pindah kewarganegaraan saja, apalagi ketika
itu bila ia mau menjadi warga negara Singapura, banyak keuntungan
duniawi yang ia dapat.
Indonesia ternyata tak
rela salah satu putri terbaiknya pergi. Mbak Kartika Dewi membuat
milis yang beranggotakan putra-putri ibu pertiwi yang sedang merantau
di negara berbeda, dan juga beberapa penduduk non-Indonesia yang
mencintai Indonesia. Ia bertanya satu hal, “Kenapa kamu mencintai
Indonesia?”. Dari sini ia berusaha mengumpulkan hal-hal positif
agar rasa pesimisnya segera sirna.
Satu persatu email yang
dikirim ia baca, dan ia tak kuasa menahan airmata. Ada dua alasan ia
menangis, satu karena ia malu melewatkan bagian-bagian Indonesia
untuk disyukuri, dua karena ia terharu masih banyak orang yang
mencintai Indonesia dengan tulus, bahkan ada seorang berkebangsaan
Perancis yang sedang berusaha menjadi warga Indonesia karena begitu
cintanya ia akan Indonesia. Mbak Kartika Dewi mengemas pesimis yang
ia miliki dan ia buang jauh-jauh ke selat Malaka.
Sekarang, ia bertanya, apa
yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan cintanya kepada Indonesia?
Tak lama ia dipertemukan
dengan sebuah gerakan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies
Baswedan, rektor Universitas Paramadina. Tanpa banyak berpikir, ia
meninggalkan jabatan serta kenyamanannya di Singapura untuk ditukar
dengan sebuah tempat terpencil yang bahkan tidak ada di peta.
Setelah di terima, ia
mendapat bagian untuk mengajar di sebuah tempat terpencil Ternate. Ia
menempuh tiga jam perjalanan udara, untuk sampai di Ternate, kemudian
perjalanan darat lebih dari enam jam, dilanjutkan dengan perjalanan
air lebih dari delapan jam untuk sampai pulau besar, kemudian naik
kapal kecil yang tidak setiap hari ada untuk sampai ditujuan. Sampai
di pulau pun masih harus melakukan perjalanan darat dengan jalan kaki
selama berjam-jam. Hingga akhirnya sampai di tempat entah
dimana.
Selama satu tahun, ia akan
memulai hidup baru yang terisolasi dari hingar bingar kota. Tak ada
litrik, tak ada sinyal telepon, air bersih tidak selalu ada, makanan
seadanya, dan berbagai alasan yang akan didefinisikan anak kota
sebagai ketidaknyamanan.
Selama satu tahun, ia
melunasi janji negara untuk mencerdaskan anak bangsa. Mengenalkan
dunia di tempat yang tak pernah tahu apa-apa. Membantu meyakinkan
setiap mimpi dapat diwujudkan.
Selama satu tahun, ia
memerdakan rakyat setempat.
![]() |
| Lihat tawa mereka... |
Mbak Kartika Dewi
menanggalkan kenyamanan yang didamba banyak anak muda, untuk menerima
ribuan alasan luka dan kesedihan di sebuah tempat antah berantah. Ia
mau turun tangan bersusah-susah menyalakan lilin-lilin kecil bahagia
di sebuah tempat yang mungkin bahwa sebagian besar penduduknya tak
tahu siapa Wakil Presidennya.
Sepulang dari sana, mbak
Kartika Dewi dapat pulang dengan kepala tegak, karena siapapun pasti
bangga, masih ada pejuang di negeri ini.
“Semoga ...,”
begitulah kebiasaan kita berkata kala kenyataan kenyataan meminta
berhenti, namun masih ada sebutir kemungkinan.
Semoga, kekuatan kecil
yang menopang agar kita tak jatuh, tak rebah sebelum waktunya tiba.
Semoga, lahir dari
harapan yang menetes di sela-sela ketidakpastian.
Namanya Bagus Rahmat
Santoso, saya sudah bersahabat dengannya sejak SMP. Ia adalah anak
pindahan di sekolah ketika itu. Tidak berasal dari keluarga dengan
ekonomi berada, waktu SMP, bapaknya setiap pagi ke pasar untuk
berjualan kerupuk, dan sekarang telah berhenti dan hanya mengurusi
sawah hasil gadaian. Sementara ibunya, pagi hari berjualan nasi pecel
di depan rumahnya, sementara itu siangnya setelah masuk jam delapan
ia berjualan di sekolah dekat rumah.
Sebagai anak pertama,
sahabat saya ini memiliki keinginan untuk mengangkat derajat ekonomi
keluarganya. Sebenarnya ia ingin melanjutkan kuliah, namun apa daya,
keadaan memintanya untuk berhenti.
Ia pasrah, namun tidak
sepenuhnya berhenti, ia bekerja serabutan sambil membantu di rental.
Lembar demi lembar uang dikumpulkan, namun rasanya tetap tak cukup
untuk melanjutkan kuliah. Kami sering berkata, “Yah, semoga
kesampaian nanti.”
Setengah tahun lepas dari
SMA, ada rencana pembangunan sebuah SMK di dekat rumahnya yang
sekarang jadi tempat berjualan ibunya. Salah satu orang yang bekerja
di SMK memintanya untuk melamar kerja sebagai staff TU.
Ia diterima di SMK
tersebut. Dari sinilah harapan mulai perlahan bersinar, meski redup
ia tetap percaya. Pihak sekolah mengijinkan ia bekerja sekaligus
kuliah. Jangan dibayangkan ia kuliah di Perguruan Tinggi ternama, ia
kuliah di universitas kecil di kota kami. Tidak masalah besar
kecilnya perguruan tinggi baginya, yang terpenting akhirnya
keinginannya untuk melanjutkan sekolah terpenuhi. Dan dari sini
impiannya untuk mendapat kehidupan keluarganya yang lebih baik mulai
ia wujudkan.
Kamis, 12 September 2013
Seniman Idaman
![]() |
Seandainya saja ada yang bertanya padaku, siapa seniman yang dekat dengan karyaku, tentu saja aku akan menjawab dirimulah salah satunya.
Dua tahun lalu, saat tahu bahwa kamu masuk kategori wanita yang layak dikagumi, wanita yang memiliki selera musik berbeda dari kebanyakan, wanita yang mampu memilah seni visual dengan baik, sejak saat itulah aku memutuskan bahwa kamu adalah seniman yang pantas diikuti.
Bagiku, seniman-seniman besar tidak selalu bisa diikuti, karena seni berhubungan dengan interpretasi dan hati, dalam setiap manusia hal ini relatif dan berbeda-beda. Dalam kasusku, aku lebih sering dekat dengan karya seseorang yang belum banyak dikenal atau malah tidak dikenal. Karena karya merekalah yang seringkali dekat dengan hidupku.
Dari pilihan lagu milikmu aku bisa tahu bahwa kamu bukanlah wanita tipikal. Mungkin aku harus menggunakan kata yang agak naif untuk menerjemahkan selera musik dan kepribadianmu, mungkin kata yang cukup tepat adalah spesifik.
Aku menyukai semua lagu yang kamu letakkan dalam ruangmu berkarya, lagu-lagu indie maupun lagu-lagu yang tidak populer di telinga lingkungan kita. Betapa aku menyukai selera musikmu sampai-sampai pernah mampu membuat cemburu wanita yang berkata tak bisa pada rasa sayangku.
Sudah lama sekali aku mengetahui pemusik bernama payung teduh, namun tak kunjung kudengarkan. Hanya karena kamu memilih pemusik itu tuk jadi jagoanmu, akupun turut mendengarkan tanpa paksaan.
Aku percaya lagu yang dipilih setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Setiap mendengarkan lagu pilihanmu, aku tersenyum sendiri sembari menyelam ke dalam rasa yang kamu titipkan pada nada-nadanya, membaca cerita-cerita milikmu yang kamu percayakan pada setiap liriknya.
Aku mencoba mengenalmu dari setiap lagu pilihanmu, walaupun terlihat sia-sia, hal itu sudah cukup membuatku bahagia. Artinya, selera musikmu telah menyederhanakan bahagiaku.
Kisahmu yang bermula sedari menginjakkan kaki di kota seribu matahari ini hingga kini seringkali aku intip tanpa permisi. Hanya agar hati merasa dekat denganmu, seniman idaman.
Banyak hal yang tanpa kamu sadari, atau mungkin kamu lakukan tanpa sadar, aku pelajari darimu. Kisahmu tak jauh berbeda denganku, sama-sama membenci lingkungan ini awalnya. Kamu yang tetap berdiri meski tak tegak lagi, berjalan meski tertatih-aku belajar dari sini. Kamu yang terus melakukan hal-hal yang kamu sukai agar tak cepat mati karena tak menikmati hidup di sini-aku belajar dari hal ini. Aku memilih mencari ruang baru sepertimu, yang masih hijau, segar, menyediakan banyak oksigen untuk paru-paru. Darimu, aku belajar untuk lebih memilih melakukan hal-hal yang membuatku nyaman daripada melakukan hal-hal yang orang inginkan namun tak sekalipun membuatku nyaman.
Aku belajar dari ketiadaan kita saling mengenal.
Coklat, kopi dan baju-baju warna pastel yang sering kamu jadikan karya visualmu semakin mensahihkan bahwa kamu wanita yang layak kujadikan seniman idaman. Mata dan hatiku selalu puas menatap lama-lama visual yang kamu susun rapi. Waktu luang kadang kurelakan untuk tenggelam memanjakan diri dalam ruang karyamu.
Satu lagi, aku menyukai rambut dicepol yang sering kamu pamerkan.
Dan karya pemusik bernama Sore dengan judul Ssstt kesukaanmu, akhir-akhir ini mampu menenangkan gelisahku...



















